Tampilkan postingan dengan label Katekese Lansia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katekese Lansia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2012

Peraturan Pantang dan Puasa keuskupan Agung Jakarta Tahun 2012

TEMA: “DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI”

Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2012 dimulai pada hari Rabu Abu, 22 Februari 2012 sampai dengan hari Sabtu Vigili, 7 April 2012,

“Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi’ (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang” (ibid). Semua umat beriman diajak untuk memelihara suasana tobat dan mengisi masa tobat ini dengan berbagai keutamaan hidup beriman dan tidak mudah terpengaruh atau mengikuti suasana lain di luar suasana khusus gerejani ini.

Di samping itu sebagai tanda pertobatan dan syukur, Gereja minta supaya kita semua memberi perhatian dan mengarahkan hidup kita dengan bantuan beberapa hal beriktu ini:

Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:
  • Berpantang dan berpuasa : pada hari Rabu, 22 Februari dan hari Jumat Suci, 6 April 2012. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskah hanya berpantang saja.
  • Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
  • Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
  • Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
  • Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok.

Jumat, 23 Desember 2011

EKARISTI: Tatacara Ibadah yang Diajarkan oleh Para Rasul dan Jemaat Perdana

Seringkali terdengar pertanyaan yang mempertanyakan dan meragukan bahwa tatacara ibadah yang dilakukan oleh umat Gereja Katolik setiap hari Minggu - yaitu Perayaan Ekaristi - adalah hanya 'rekayasa', tidak memiliki dasar Alkitabiah dan tidak diajarkan/diwariskan oleh para Rasul. Untuk sekedar memberi gambaran bahwa tatacara Perayaan Ekaristi adalah benar ajaran dan warisan Para Rasul dan telah dikenal sejak Jemaat Perdana, ada baiknya kita mengenal dan mengetahui sedikit tulisan St. Yustinus (martir). Saya sungguh bersyukur bahwa St. Yustinus menjadi nama baptis saya. Suatu kebanggaan tersendiri bahwa St. Yustinus yang hidup di awal-pertengahan Abad II adalah salah satu orang kudus yang menulis tentang tata ibadah yang selalu diadakan oleh Jemaat Perdana, sehingga daripadanya kita mengenal bagaimana Jemaat Perdana (Kisah Para Rasul) melakukan kebaktian/ibadah.


St. Yustinus Martir adalah seorang Bapa Gereja di abad awal yang menulis tentang pengajaran iman Kristiani. Ia adalah seorang filsuf Kristen dan seorang apologist, kelahiran Flavia Neapolis yang wafat 165 AD sebagai martir di Roma. Setelah pertobatannya menjadi Kristen St. Yustinus mengajar di Efesus sampai tahun 135, maka diperkirakan ia mempelajari tentang iman Kristen di sana, kemungkinan dari para murid Rasul Yohanes yang hidup di Efesus. Buku St. Yustinus yang terkenal antara lain adalah First Apology, yang di dalamnya memuat ajaran tentang Ekaristi dan Liturgi. Dalam bab 61-67 St. Yustinus menuliskan secara ringkas tentang tata cara penyembahan Kristiani. Ia memulai dengan Liturgi Baptisan yang disebutnya dengan “Penerangan” (illumination). Pada bab 65-66, ia menuliskan tentang Ekaristi demikian:

Selasa, 20 Desember 2011

Tatacara Pengakuan Dosa dengan Baik dan Benar

Konsili Vatikan II menetapkan bahwa “Upacara dan rumus untuk Sakramen Tobat hendaknya ditinjau kembali sedemikian rupa, sehingga hakekat dan buah sakramen terungkap secara lebih jelas” (Sacrosanctum Concilium, no. 72). Oleh karena itu, Kongregasi untuk Ibadat menerbitkan Ritus Sakramen Tobat pada tahun 1973. Ritus yang baru ini menambahkan pilihan doa-doa, menyediakan bacaan dari Kitab Suci serta memperkenalkan “pelayanan-pelayanan Sakramen Tobat” dengan pengakuan pribadi. Namun demikian, ketentuan tersebut menetapkan, “bagi para imam, dan khususnya para imam paroki dalam melayani individual maupun komunitas, hendaknya menyesuaikan ritus dengan kondisi konkrit peniten (no. 40)”. Sebab itu, pada hari Sabtu sore dengan antrian peniten menunggu giliran mengaku dosa, imam paroki dapat menggunakan ritus yang lebih “efisien”, yang mencakup format tradisional yang biasa dipergunakan dalam pengakuan.

PEMERIKSAAN BATIN

Pengakuan dosa dalam Penerimaan Sakramen Tobat haruslah dimulai dengan pemeriksaan batin. Selalu mulai dengan mengingat. Pikirkan orang-orang yang ada di sekitar kita. Mungkin diawali dengan keluarga. Kemudian yang lainnya juga: sanak saudara, tetangga, rekan sekerja, teman sekolah, orang yang kita potong jalannya di jalan raya minggu lalu, dan sebagainya, dan sebagainya. Pikirkan tentang kejadian-kejadian baru-baru ini dalam hidup kita yang melibatkan orang-orang tersebut. Pengaruh apakah yang kita berikan kepada mereka? Apakah yang telah kita lakukan sehingga menyakiti mereka? Juga, apakah yang seharusnya kita lakukan, tetapi tidak kita lakukan? Adakah seseorang yang membutuhkan pertolongan dan kita tidak menawarkan pertolongan?

Sekarang tarik mundur ingatan agak sedikit jauh ke belakang. Kemungkinan kita tidak melakukan suatu dosa besar atau “dosa berat”, tetapi adakah dosa-dosa yang merupakan kebiasaan, yang kita lakukan dan lakukan lagi. Setetes air hujan mungkin tidak berarti, tetapi jika tetesan-tetesan itu ditampung untuk jangka waktu yang lama, maka tetesan hujan itu dapat mengakibatkan banjir! Suatu ejekan, yang kecil dan sepele - jika diulang dan diulang- dapat menjadi gunung kebencian.
Pada umumnya kita lupa akan sebagian besar perkara yang kita lakukan. Oleh karena itulah suatu sarana sederhana diperlukan untuk membantu. Sarana itu disebut “Pemeriksaan Batin” yaitu suatu daftar pertanyaan untuk diajukan kepada diri sendiri sebelum kita mengaku dosa. Suara Batin atau Hati Nurani adalah kesadaran moral atau etik atas kelakuan kita dengan dorongan untuk memilih yang baik dari yang jahat. Suara batin haruslah dibentuk dalam terang Sabda Allah, yaitu melalui Gereja.

Selasa, 01 November 2011

Sulitnya Menggapai Kesucian di Masa Kini

Hari ini gereja memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus. Asal mula yang tepat dari perayaan ini tidak diketahui dengan pasti, walau, sesudah disahkannya kekristenan pada tahun 313 M, suatu peringatan umum demi menghormati para kudus, khususnya para martir, muncul di berbagai wilayah di segenap penjuru Gereja. Sebagai contoh di Timur, kota Edessa merayakan pesta ini pada tanggal 13 Mei; Siria merayakannya pada hari Jumat sesudah Paskah; kota Antiokhia merayakannya pada hari Minggu pertama sesudah Pentakosta. Baik St Efrem (wafat 373) dan St Yohanes Krisostomus (wafat 407) menegaskan akan adanya perayaan ini dalam khotbah mereka. Di Barat, suatu peringatan demi menghormati semua orang kudus juga dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah Pentakosta. Alasan utama menetapkan suatu pesta umum ini adalah karena kerinduan untuk menghormati sejumlah besar martir, teristimewa yang wafat dalam masa penganiayaan oleh Kaisar Diocletion (284-305), yaitu masa penganiayaan yang paling luas, keji dan bengis. Singkatnya, tidak akan ada cukup hari dalam satu tahun apabila masing-masing martir dirayakan tersendiri, lagipula kebanyakan dari para martir ini wafat dalam kelompok. Sebab itu, suatu pesta umum bagi semua orang kudus, dianggap paling tepat.

Penetapan tanggal 1 November sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus berkembang seturut berjalannya waktu. Paus Gregorius III (731-741) mempersembahkan suatu oratorium di Basilika St Petrus yang asli demi menghormati semua orang kudus pada tanggal 1 November (setidaknya demikian menurut beberapa catatan), maka kemudian tanggal ini menjadi tanggal resmi untuk merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus di Roma. St. Beda (wafat 735) mencatat HR Semua Orang Kudus dirayakan pada tanggal 1 November di Inggris, dan perayaan serupa juga ada di Salzburg, Austria. Ado dari Vienne (wafat 875) menceritakan bagaimana Paus Gregorius IV meminta Raja Louis yang Saleh (778-840) untuk memaklumkan tanggal 1 November sebagai HR Semua Orang Kudus di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi yang Kudus. Buku Doa Misa dari abad ke-9 dan ke-10 juga menempatkan HR Semua Orang Kudus dalam penanggalan liturgi pada tanggal 1 November.

Menurut seorang sejarahwan Gereja perdana, John Beleth (wafat 1165), Paus Gregorius IV (827-844) secara resmi memaklumkan tanggal 1 November sebagai HR Semua Orang Kudus, memindahkannya dari tanggal 13 Mei. Tetapi, Sicard dari Cremona (wafat 1215) mencatat bahwa Paus Gregorius VII (1073-85) akhirnya menghapus tanggal 13 Mei dan mengamanatkan 1 November sebagai tanggal perayaan HR Semua Orang Kudus.

Di masa lalu kekudusan identik dengan kemartiran. Bilamana karena imannya seorang kristen pengikut Yesus menderita bahkan menumpahkan darah, maka ia disebut martir. Hal ini terjadi terutama di masa awal Gereja berdiri. Tidak terhitung jumlah kaum beriman yang dibunuh untuk menghadang laju perkembangan iman kristiani. Namun kenyataannya: dimana darah martir tertumpah, di situ justru panggilan iman melimpah. Kejahatan manusia tidak mampu menghambat karya Roh Kudus. Di masa kini karya kemartiran nampak dalam perjuangan umat manusia menegakkan kebenaran, keadilan dan kejujuran yang bersumber dari hati nurani yang bersih. Masalahnya adalah kini hal itu sudah menjadi barang langka. Dimana budaya manusia justru menampakkan kebrobrokan moral, upaya menegakkan kebenaran justru dipandang sebagai penghambat kemajuan. Padahal hasil apapun yang dicapai dari ketidakjujuran adalah awal dari kehancuran. Pelajaran berharga bagaimana sulitnya menjadi orang kudus di masa kini nampak dalam perjuangan manusia kecil berikut :

Si Jujur yang Malah Hancur

Senin, 01 Agustus 2011

Merayakan Ekaristi dengan Baik dan Benar

Dalam beberapa kali kesempatan ada katekumen atau umat Katolik baru mempertanyakan tentang adanya beberapa perbedaan dalam merayakan Ekaristi di beberapa Paroki. Saya pribadi biasanya kemudian mempersilahkan mereka untuk melihat sendiri bagaimana tatacara merayakan Ekaristi sesuai TPE (untuk Katekumen akan diberi pengarahan khusus ketika membahas Tema Sakramen Ekaristi). Tetapi sehubungan akhir-akhri ini sudah menjadi "salah kaprah" di beberapa kalangan umat akan tatacara merayakan Ekaristi yang baik dan benar, ada baiknay saya posting penjelasan tentang bagaimana merayakan Ekaristi dengan baik dan benar serta tidak menyalahi tata aturan sesuai TPE kita, sebagai berikut :


  1. Masuk ke Gereja membuat tanda salib. Jgn buru-buru, tetapi hayatilah dan syukurilah bahwa karena rahmat Baptis anda bisa bergabung ke dalam persekutuan Gereja. Jangan membiasakan memberi air suci pada orang lain dengan mengulurkan jari anda. Ketika anda dibaptis anda dipanggil dengan nama pribadi anda, berarti sangat personal, maka tanda salib jangan dibuat dengan asal-asalan

Selasa, 26 Juli 2011

Kelompok Katekumen Lansia: "St. Anna dan St. Yoakim"


Di hari perayaan St. Anna dan St. Yoakim (orang tua St. Perawan Maria Bunda Yesus) yang jatuh pada hari ini saya ingin sejenak mengenang dan bersharing tentang perjalanan berdirinya Kelompok Katekumen Lansia St. Anna dan St. Yoakim di Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jakarta Barat. Sebuah kelompok katekumenat lansia (yang mungkin satu-satunya) di Keuskupan ini, dalam artian sebagai sebuah kelompok lansia yang yang didampingi secara khusus di Gereja dalam rangka persiapan baptisan, dengan materi, pendamping dan proses katekumenat yang memang khusus disiapkan untuk lansia.

Mengapa concern terhadap katekese lansia?

Berdasarkan statistik dan berdasarkan keyakinan dan pengalaman saya sendiri, jumlah lansia dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan semakin membaiknya tingkat kesadaran masyarakat di Indonesia. Sejalan dengan itu, karya-karya pelayanan pada lansia semakin diperlukan, entah banyaknya entah ragamnya. Penulis sendiri yang berkecimpung di bidang pelayanan katekese belum pernah menemui sebuah kelompok katekumen khusus yang mendampingi lansia. Padahal kebutuhan pendampingan lansia terutama yang mulai bertobat dan hidup baru dalam jalan Tuhan akan semakin banyak pula. Pendampingan para lansia membutuhkan proses, cara, metode, semangat dan materi yang berbeda dengan pendampingan kelompok-kelompok kategorial lainnya.

Tapi sayangnya pelayanan kepada lansia masih seringkali memandang lansia ‘hanya’ sebagai obyek karitatif (berdasar pandangan bahwa lansia sudah tidak mampu berbuat apa-apa), tidak memandang mereka sebagai subyek yang mandiri dan mampu berkarya. Proses katekese lansia tidak hanya mendampingi para lansia untuk menerima Sakramen Baptis, tapi juga bertujuan membangkitkan semangat hidup dan mensyukurinya dan dalam usia lanjut, berusaha tetap berkarya bagi sesama.

Sabtu, 16 April 2011

JUMAT AGUNG

Dalam Upacara Jumat Agung, Gereja merayakan sengsara dan wafat Tuhan dan berdoa bagi keselamatan dunia.

Upacara Jumat Agung terdiri dari tiga bagian, yakni :
• Pertama, Upacara Sabda yang memuncak pada pembacaan passio dan doa umat meriah.
• Kedua, Upacara penghormatan salib yang diawali dengan pembukaan selubung salib.
• Ketiga, Upacara Komuni yang dilanjutkan berkat penutup.

Melalui tiga bagian upacara tersebut, Gereja hendak menyatakan inti misteri yang hendak dirayakan pada hari ini, antara lain :

Pertama, Gereja merayakan sengsara dan wafat Tuhan. Hari ini Gereja berkabung karena mempelai-Nya menderita dan wafat demi penebusan umat manusia. Secara simbolis maksud ini diperlihatkan melalui keheningan seluruh perayaan; tindakan imam yang menelungkup pada pembukaan upacara, doa-doa dan pembacaan passio.

Jumat, 01 April 2011

GAMBAR 14 PERHENTIAN JALAN SALIB

Umat katolik memiliki kebiasaan melaksanakan ibadat Jalan Salib pada masa Prapaskah sebagai salah satu bentuk pertobatan. Biasanya ibadat jalan salib diadakan di setiap gereja pada hari Jumat (hari pantang) selama masa Prapaskah dan pada pagi hari pada Hari Jumat Agung. Bagi mereka yang sibuk karena panggilan tugas dan pekerjaan demi mencukupi hidup keluarga atau mereka yang bekerja shift sore atau malam, mungkin akan terhalang untuk hadir di gereja mengikuti ibadat jalan salib. Saya pribadi kadangkala tidak dapat mengikuti ibadat Jalan Salib pada hari Jumat. Untuk "menebusnya" sering saya melakukan ibadat jalan salib pribadi/sendirian pada hari Sabtu pagi di Gereja. Selain hari Jumat selama masa Prapaskah, memang Gereja tidak pernah membatasi umat bila mau melaksanakan ibadat Jalan Salib secara pribadi atau dalam keluarga atau dalam lingkungan/komunitas kecil (entah teritorial atau kategorial). Di luar masa Prapaskah pun sebenarnya umat (entah pribadi atau komunitas) sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadat Jalan Salib dalam ziarah-ziarah rohani atau dalam waktu-waktu khusus untuk memperbaharui semangat dan spiritualitas "Jalan Salib" sebagai jalan hidup kita para pengikut Yesus, sehingga dalam saat-saat sulit, kita senantiasa mendapat peneguhan untuk terus bertahan dalam kebaikan.

Bagaimana Membuat Perhentian-perhentiannya.

Dalam beberapa kali kesempatan rekoleksi  dan retret bersama para katekumen, biasa saya melaksanakan ibadat Jalan Salib. Syukur bila di rumah retret atau villa (tepat rekoleksi/retret) ada gambar-gambar/ikon-ikon Jalan Salib, Itu bila pemilik villa menyediakannya, tapi seringkali perhentian-perhenian Jalan Salib harus dibuat sendiri. Dalam keadaan demikian, biasanya perhentian-pehentian saya buat sendiri, yaitu dengan cara membuat tulisan-tulisan perhentian pada secarik kertas, misalnya: “PERHENTIAN I: YESUS DIJATUHI HUKUMAN MATI.” Tulisan-tulisan itu saya buat sedikit besar dan mencolok dan ditulis di atas kertas yang sedikit keras/kaku, misalnya karton atau buffalo. Perhentian-perhentian sederhana ini kemudian ditempelkan di dinding atau batang-batang pohon di sekitar villa tempat kami mengadakan rekoleksi/retret; dan jadilah 14 perhentian jalan salib sederhana. Bagi saya pribadi, yang terpenting bukanlah gambar/visualisasi perhentiannya, tapi bagaimana peserta menghayati makna Jalan Salib dan pengorbanan Yesus itu dan memperoleh kekuatan rohani karenanya. Meskipun begitu, tetaplah saya merasa penting juga mem-visualisasi perhentian-perhentian pada jalan salib, terutama bilamana peserta Jalan Salib sebagian adalah anak-anak.

Dalam posting sebelumnya sudah dijelaskan bahwa terdapat 14 perhentian Jalan Salib yang menggambarkan proses penyaliban, dimulai dari penjatuhan hukuman mati yang tidak adil oleh Pilatus sampai dengan Yesus dimakamkan. Perhentian-perhentian itu adalah sebagai berikut :
  1. Yesus dihukum mati
  2. Yesus memanggul salib
  3. Yesus jatuh untuk pertama kalinya
  4. Yesus berjumpa dengan ibunya
  5. Yesus ditolong Simon dari Kirene
  6. Wajah Yesus diusap oleh Veronica
  7. Yesus jatuh untuk kedua kalinya
  8. Yesus menghibur wanita-wanita yang menangisinya
  9. Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
  10. Pakaian Yesus ditanggalkan
  11. Yesus disalibkan
  12. Yesus mati di salib
  13. Yesus diturunkan dari salib
  14. Yesus dimakamkan

Senin, 07 Maret 2011

PETUNJUK UMUM BAGI UMAT KATOLIK SELAMA MASA PRAPASKAH

(Dapat dipergunakan sebagai Bahan Tambahan Katekese atau dapat dijadikan petunjuk praktis dalammempersiapkan Prapaskah bagi para pemimpin komunitas/lingkungan).


Masa Prapaskah dimulai dengan perayaan Rabu Abu di Gereja. Dengan menerima abu, setiap umat beriman diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. “Kamu berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.” (Kej 2:7). Forma inimengingatkan kita akan kematian dan/atau kedatangan Tuhan yang dapat terjadi sewaktu-waktu seumpama pencuri di waktu malam, oleh karena itu diperlukan sikap berjaga-jaga dan bertobat: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.” Abu merupakan tanda yang mengingatkan kepada kita bahwa kita berasal dari debu tanah dan akan kembali ke abu/ debu tanah. Kita ketahui bahwa manusia pertama diciptakan Allah dari debu tanah dan semua manusia akan meninggal, dan tubuhnya akan kembali terurai menjadi debu tanah. Pada saat kita menerima tanda salib dari abu di dahi kita pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa suatu saat nanti kita akan kembali ke tanah, yaitu bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Allah yang menciptakan kita, sebab Dia berada di atas kita dan segala kesenangan dunia sifatnya sementara.

Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas yaitu mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan dan membina pertobatan. Warna Liturgi secara Umum adalah Ungu: lambang pertobatan, kecuali Tri Hari Suci atau Perayaan Wajib Selama Masa Prapaskah.

Pada tahun 2011 ini, Hari Rabu Abu diperingati pada tanggal 9 Maret 2011, di setiap Gereja Katolik akan dilaksanakan Ekaristi Rabu Abu beberapa kali untuk menerimakan abu kepada Umat. Masa Prapaskah akan dilaksanakan selama 40 hari (di luar hari Minggu, yang dipandang sebagai Hari Tuhan) mulai tanggal 9 Maret 2011 sampai dengan Hari Sabtu Vigili tgl. 23 April 2011.
Angka 40 (hari) diperoleh dari beberapa referensi dari Alkitab, yaitu: hujan selama 40 hari pada jaman Nabi Nuh sebelum Tuhan membuat perjanjian pada keluarga Nuh dan keturunannya (Kej 7:4); selama 40 hari Musa berada di puncak gunung Sinai sebelum menerima kesepuluh perintah Allah yang menjadi tanda Perjanjian Lama dengan umat Israel (Kel 24:18); perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Terjanji selama 40 tahun (Bil 14:33). Kesemuanya menandai masa pertobatan menuju suatu ‘kelahiran’ baru. Dalam Injil kitapun membaca bagaimana Yesus berpuasa 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya memberitakan kabar keselamatan (Mat 4:1-2; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-2).

St. Leo (461) adalah Bapa Gereja yang menyatakan bahwa tradisi berpuasa selama 40 hari ini merupakan tradisi dari para rasul dan ahli sejarah Socrates (433) dan St. Hieronimus Agung (420) juga mengatakan hal serupa.

Selasa, 17 Agustus 2010

BUTIR-BUTIR PEMERIKSAAN BATIN BERDASARKAN 10 PERINTAH ALLAH

(Berikut ini bahan katekese tentang butir-butir pemeriksaan batin berdasarkan 10 Perintah Allah, sebagai persiapan untuk menyambut Sakramen Tobat. Bahan ini dapat dipakai sebagai bahan tambahan dalam Tema Mistagogi: Sakramem Tobat, atau dipergunakan dalam ibadat tobat untuk penyambutan sakramaen tobat yang pertama kali untuk para baptisan baru lansia)

I. Akulah Tuhan Allahmu. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.▪ Apakah aku menyediakan waktu setiap hari untuk berdoa kepada Tuhan?
▪ Apakah aku percaya akan takhyul dan jimat, dan bukannya percaya kepada Tuhan saja?
▪ Pernahkah aku menolak ajaran Gereja atau menyangkal bahwa aku seorang Katolik?
▪ Apakah aku sering menggerutu dalam menjalankan kehendak Tuhan dalam hidupku?
▪ Apakah aku menolak untuk menerima permasalahan yang datang dalam hidupku sebagai cara untuk mendatangkan keselamatan?
▪ Apakah aku sering kuatir dalam kehidupan karena kekurangpercayaanku terhadap penyelenggaraan Allah?
▪ Apakah aku gagal untuk menjadi saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun perbuatan?
▪ Apakah aku menjadi anggota dari suatu organisasi yang melawan ajaran Katolik?
▪ Apakah aku tidak setia dalam doa harianku?
▪ Apakah aku tidak membuat prioritas dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk hidup kudus?
▪ Apakah aku ragu-ragu tentang iman Katolik?
▪ Apakah aku selalu percaya kepada Tuhan, terutama dalam kemalangan dan pencobaan?
▪ Apakah ada allah-allah lain di hidupku: uang, kesenangan, seks, keberhasilan, popularitas, kekuasaan, terobsesi dengan penampilan ….?

II. Jangan menyebut Nama Tuhan Allah-mu dengan tidak hormat.
▪ Pernahkah aku menyebut nama “Tuhan” atau “Yesus” dengan tidak hormat?
▪ Pernahkah aku menggunakan kata-kata kotor atau mengumpat? Apakah aku mengharapkan yang jahat bagi orang lain?

III. Kuduskanlah hari Tuhan.
▪ Pernahkah aku tidak pergi ke Misa pada hari Minggu atau pada hari yang diwajibkan?
▪ Apakah aku datang terlambat ke gereja atau apakah aku pulang lebih awal? Apakah aku berusaha khidmat dan menaruh perhatian selama Misa?
▪ Apakah aku menjadikan Hari Minggu sebagai hari untuk berdoa dan beristirahat?
▪ Apakah aku membaca Kitab suci setiap hari?

Minggu, 15 Agustus 2010

MISTAGOGI LANSIA : TATACARA PENERIMAAN SAKRAMEN TOBAT


Bahan Mistagogi Katekese Lansia:
TEMA : TATACARA PENERIMAAN SAKRAMEN TOBAT
 

PERSIAPAN : PEMERIKSAAN BATIN

Pemeriksaan batin dilakukan sebelum pengakuan dosa pribadi, sebaiknya di lakukan dalam masa tenang, dapat dilakukan di rumah ataupun di gereja. Hal yang sangat membantu dalam pemeriksaan batin adalah :
  • Berdoa kepada Roh Kudus mohon penerangan dan ketulusan hati untuk dapat melihat kembali perjalanan hidup kita. Pikiran dan perbuatan-perbuatan tidak baik apa saja yang sudah kita lakukan kepada keluarga, lingkungan sekitar, teman, masyarakat, gereja? Seberapa berat /seringkah kita melakukan itu ?
  • Membaca teks Kitab suci untuk membantu kita merenungkan akibat dosa, besarnya kasih Tuhan dan kesediaanNya untuk mengampuni kita.
  • Memeriksa diri dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan mengenai tugas kita kepada Tuhan, sesama dan diri sendiri.

Salah satu sarana untuk Pemeriksaan Batin dapat mengacu pada perintah Allah, perintah gereja, sabda bahagia.

Sabtu, 14 Agustus 2010

MISTAGOGI LANSIA : SAKRAMEN TOBAT

Bahan Mistagogi Katekese Lansia:
TEMA : SAKRAMEN TOBAT

Referensi biblis :
Yoh 20: 19-23 ; Luk 15:11-23 (kisah anak yang hilang);


Pokok-pokok Iman dan Refleksi :

Arti dosa, proses terjadinya dosa & akibat dosa :
Apakah DOSA itu? dosa adalah melawan Tuhan, namun secara bersamaan melawan akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang benar, sehingga menimbulkan ketidaktenangan dan rasa bersalah. Apakah ada rasa "tidak enak" terhadap seseorang dalam hati Anda? coba sharingkan

- Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu:
1. Dosa berat atau “mortal sin“, adalah melawan kasih secara langsung, jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia.
2. Dosa ringan atau “venial sin“, adalah dosa yang memperlemah kasih.
Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat.

- Apakah efek / akibat dari dosa? Dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita yaitu kasih. Seperti 10 perintah Allah, dibagi menjadi 2, yaitu : Perintah (1-3) : kasih kepada Tuhan, dan Perintah (4-10) : kasih kepada sesama, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: mempengaruhi hubungan kita dengan TUHAN dan mempengaruhi hubungan kita dengan SESAMA. Jadi dapat dikatakan tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Jadi semua dosa kita akan berakibat kepada seluruh kehidupan kita. Misalnya : seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Biasanya anak-anaknya pun tumbuh dewasa sebagai pemarah. Bagaimana kehidupan keseharian Anda? Apakah masih ada tanda-tanda ketidakhadiran damai sejahtera? coba renungkan apa penyebabnya.

Selasa, 10 Agustus 2010

TEMA XVII: MENJADI SAKSI KRISTUS

Pertemuan 27 Katekese Lansia:
TEMA : MENJADI SAKSI KRISTUS

Dalam pertemuan katekese yang ke-27 ini, para katekumen diajak untuk belajar dan mengalami bagaimana umat yang telah percaya kepada Yesus berkarya bagi Gereja dan masyarakat.

Dalam pertemuan dapat diberikan sharing panggilan sebagai pewarta dan pelayan oleh katekis / Legionaire Maria yang mendampingi lansia yang bersangkutan. Kesaksian ini harus diolah terlebih dahulu agar nmenyentuh dan menarik bagi para katekumen lansia, sehingga mereka terdorong juga untuk memulai berkarya dengan segala keterbatasan mereka sebagai lansia. Dalam sharing perlu juga disampaikan suka-duka atau jatuh bangun dalam pelayanan dan terutama segala kabaikan dan rahmat Tuhan yang dialami melalui karya pelayanan yang diberikan.
Bila dirasa sulit untuk memberikan sharing atau ketidaksiapan pendamping, dapat juga dibacakan: kisah para kudus atau kesaksian hidup umat beriman

Di akhir pertemuan harus ditegaskan kembali sikap penyerahan hidup total kepada Yesus dan perutusan kepada kita semua menjadi saksi hidup bagi kemuliaan Tuhan..

Senin, 19 Juli 2010

PELAYANAN IMAN KEPADA YANG SAKIT DAN YANG MENINGGAL DUNIA

(Materi pelayanan iman seputar kematian ini dapat dipakai sebagai bahan tambahan pada tema ke-26 Katekese Lansia: Hidup Kekal. Tapi dapat juga dibahas tersendiri dalam pertemuan ke-27 Katekese Lansia. Proses Katekese dapat diawali dengan sharing seputar pendampingan orang sakit atau pengalaman mendapmpingi orang yang dalam bahaya kematian).

- Bagi seorang beriman, kematian adalah peristiwa iman. Sebab pada saat kematian, kita mengambil bagian dalam misteri Paskah Kristus, bersama Dia kita beralih dari dunia fana ke dalam kehidupan kekal. Jadi kematian adalah pintu masuk ke dalam hidup abadi. Menurut tradisi iman Katolik, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dan perlu diperhatikan mengenai pelayanan seputar kematian :

Pelayanan kepada yang sakit 

  • Dalam keadaan sakit, seringkali seseorang mudah berputus asa dan mulai goyah imannya akan Tuhan yang berbelas kasih. Kepedulian dan empati umat dengan melakukan kunjungan, doa dan kepedulian akan memperteguh iman yang sakit dan keluarganya dalam menghadapi cobaan hidup yang terasa sulit.
  • pelayanan kepada umat yang sakit adalah pelaksanaan amanat Yesus dalam Matius 25:35-40: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Pelayanan/kunjungan-kunjungan kepada yang sakit bertujuan untuk memberinya peneguhan agar tak putus asa dalam menghadapi sakitnya, juga untuk meneguhkan keluarga yang sedang dalam kesulitan. Partisipasi umat gereja/lingkungan untuk peduli dan membantu keluarga yang sakit merupakan bentuk nyata iman dan cinta kita kepada Tuhan sendiri.

Minggu, 18 Juli 2010

TEMA XXVI: HIDUP KEKAL

Pertemuan 26 Katekese Lansia:
TEMA : HIDUP KEKAL

Referensi biblis :
Luk 16:19-31

Pokok-pokok iman dan refleksi:

- Hidup manusia di dunia sifatnya fana/sementara, artinya cepat atau lambat, hidup kita berakhir dengan kematian. Kemanakah kita setelah meninggal? Apa yang terjadi setelah kematian? Bagaimana kita mempersiapkan kematian secara katolik?

- Dalam syahadat kalimat terakhir kita ucapkan:
     Aku Percaya .........
     Kebangkitan Badan dan Kehidupan Kekal.
Dalam syahadat kita ucapkan kepercayaan kita akan kehidupan kekal, kehidupan abadi. Bagaimana kehidupan abadi itu digambarkan dan dijelaskan oleh iman kita ?

- Setiap orang Kristen yang telah dibaptis diikutsertakan secara penuh dalam kehidupan Yesus Kristus, Putera Allah, Penebus Ilahi. “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” (Rom 6:4-5). Jadi setiap orang yang telah dibaptis diberi hidup baru yang sama dengan hidup Yesus yang telah bangkit. Mereka seperti ditanami benih kehidupan abadi. Dan hidup abadi itu diterima penuh ketika mereka diubah oleh kematian untuk menerima hidup kekal. Maka dengan persatuan dengan kebangkitan Kristus kematian bukan lagi saat akhir yang menakutkan, malah dalam iman, kematian merupakan saat yang diharapkan, karena kematian itu menjadi awal (pintu) yang membawa manusia memasuki hidup abadi, bertemu dengan Tuhan Yesus, yang mencintai dan telah menyerahkan nyawanya untuk kita.

Kamis, 15 Juli 2010

TEMA XXV: SAKRAMEN PERKAWINAN

Pertemuan 25 katekese Lansia:
TEMA : SAKRAMEN PERKAWINAN

Referensi biblis :
Ef 5:22-33 ; Mrk 10: 1-12

POKOK-POKOK IMAN TTG SAKRAMEN PERKAWINAN

- Mengapa orang mesti menikah? Untuk apa (apa tujuannya) orang menikah?
Pada kisah penciptaan, Allah menciptakan manusia pertama, laki-laki (Adam) dan perempuan (Hawa), menurut citra Allah (Kej 1:26-27). Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam agar laki-laki itu mendapatkan teman ‘penolong’ yang sepadan dengannya (Kej 2:20), sehingga mereka akhirnya dapat bersatu menjadi satu ‘daging’ (Kej 2:24). Jadi persatuan laki-laki dan perempuan telah direncanakan oleh Allah sejak awal dan sesuai dengan perintahnya kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu….” (Kej 1:28). Jadi perkawinan antara pria dan wanita berkaitan dengan penciptaan manusia menurut citra Allah.

- Pada Perjanjian Baru, Yesus sendiri menyempurnakan nilai perkawinan ini dengan mengangkatnya menjadi gambaran akan hubungan kasih-Nya kepada Gereja-Nya. Ia sendiri mengasihi Gereja-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya untuk menguduskannya. Para suami dipanggil untuk mengasihi, berkorban dan menguduskan istrinya, sesuai dengan teladan yang diberikan oleh Yesus kepada Gereja-Nya; dan para istri dipanggil untuk menaati suaminya yang disebut sebagai ‘kepala istri’, seperti Gereja sebagai anggota Tubuh Kristus dipanggil untuk taat kepada Kristus, Sang Kepala (lihat Ef 5:22-33)

Minggu, 11 Juli 2010

TEMA XXIV: TATA PERAYAAN EKARISTI

Pertemuan 24 Katekese Lansia
TEMA : TATA PERAYAAN EKARISTI


- Perayaan Ekaristi adalah perayaan KEHADIRAN Tuhan Yesus dan seluruh karya penebusanNya secara sakramental dalam Gerejanya (umat beriman). Sebagai perayaan kehadiran Tuhan, kita bisa memahami makna setiap bagian dari Perayaan Ekaristi.

Hal-hal yang perlu dipersiapan sebelum merayakan perayaan Ekaristi :
- Untuk menerima Kristus dalam komuni Ekaristi harus berada dalam keadaan rahmat. Kalau seorang sadar bahwa ia melakukan dosa berat, ia tidak boleh menerima Ekaristi tanpa sebelumnya menerima pengampunan di dalam Sakramen Pengakuan Dosa.
- Sebagai persiapan menyambut Sakramen ini, umat perlu memperhatikan pantang yang diwajibkan Gereja (puasa 1 jam sebelum misa).
- Tingkah laku dan pakaian yang pantas supaya terungkap penghormatan, kekhidmatan dan kegembiraan yang sesuai dengan saat dimana Kristus menjadi tamu kita.

Senin, 28 Juni 2010

TEMA XXIII : SAKRAMEN EKARISTI

Pertemuan 23 Katekese Lansia :
TEMA : SAKRAMEN EKARISTI

Referensi biblis :
1Kor 11:23-32 ; Yoh 6:25-58

Pokok-pokok Iman :

- Dalam sakramen-sakramen inisiasi (sakramen yang meng-inisiasikan/mengidentifikasi seseorang menjadi seorang Katolik sepenuhnya) selain Sakramen Baptis = kelahiran baru dan Sakramen Penguatan/Krisma = pertumbuhan/pendewasaan, Tuhan Yesus menganugrahkan rahmat terbesar berupa Sakramen EKARISTI.

- Ekaristi berasal dari kata ‘eucharistein‘ yang artinya syukur atau ucapan terima kasih kepada Allah. Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa atas segala kebaikan-Nya sejak penciptaan, penebusan oleh Kristus, dan pengudusan. Oleh karena itu kalau kita ke gereja dan menerima sakramen ekaristi maka tujuan utama adalah SYUKUR kepada Tuhan.

Sabtu, 19 Juni 2010

TEMA XXII : SAKRAMEN PENGUATAN/KRISMA

Pertemuan 22 Katekese Lansia :
TEMA : SAKRAMEN PENGUATAN / KRISMA

Referensi biblis :
Yoh 14:15-17, 25-27

Makna SAKRAMEN KRISMA :
 Setelah kita telah dilahirkan kembali oleh air dan Roh melalui sakramen Baptis, maka kita pun harus juga bertumbuh dewasa di dalam Kristus. Dalam gereja katolik, Kristus menganugrahkan pada kita Sakramen Penguatan, yang memberikan kita sumber kekuatan, yaitu karunia yang berasal dari Roh Kudus-Nya sendiri.

 Sakramen Penguatan disebut juga sebagai sakramen Krisma. Krisma = pengurapan. Pengurapan ini menjelaskan nama Kristen yang berarti ‘yang terurapi’ yang dapat kita lihat kesempurnaannya pada diri Yesus Kristus, yang diurapi Allah dengan Roh Kudus-Nya (Kis 10:38). Jadi Krisma bagi kita  pengurapan yang menjadikan kita seperti Kristus, dengan menerima pengurapan Roh Kudus yang sama seperti yang diterima oleh Kristus

 Sakramen Penguatan menyebabkan curahan Roh Kudus dalam kelimpahan, seperti yang pernah dijanjikan oleh Kristus kepada para muridNya (Yoh 14:15-21) dan dialami para Rasul pada hari Pentekosta. Curahan Roh Kudus dapat menjadikan kita seperti para rasul, yaitu memiliki kasih yang berkobar kepada Kristus dan keinginan memberikan diri untuk ikut serta dalam karya Keselamatan-Nya

Jumat, 18 Juni 2010

TEMA XXI: MAKNA SAKRAMEN DAN SAKRAMEN BAPTIS

Pertemuan XXI Katekese Lansia :
TEMA : MAKNA SAKRAMEN & SAKRAMEN BAPTIS

Referensi biblis :
Rm 6:1-14 ; Yoh 3 : 1-21

SAKRAMEN :

 Sakramen adalah sebuah tanda, yang didirikan oleh Yesus, yang menandakan adanya keselamatan yang sedang terjadi dan dialami oleh umat beriman. Sebagai tanda “Ia” (sekramen, seperti halnya Yesus) bukanlah tanda mati, tetapi tanda hidup yang bekerja dalam diri manusia, ‘Ia’ memperbarui dan menyegarkan rahmat Allah sehingga manusia menjadi semakin dekat dengan keselamatan yang paripurna. Tanda (Sakramen) terdiri dari barang-barang (materia) dan kata-kata/tindakan (forma).

 Sakramen memerlukan adanya iman, meskipun kata-kata dan elemen-elemen ritualnya, menyuburkan, menguatkan dan memberi ekspresi bagi iman

 Setiap Sakramen memberikan anugerah / rahmat tertentu dan menguduskan seseorang, cara untuk mempersatukan manusia dengan Kristus, membantu manusia dalam perjalanannya menuju hidup kekal.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...