Tampilkan postingan dengan label Katekese Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katekese Remaja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2012

Peraturan Pantang dan Puasa keuskupan Agung Jakarta Tahun 2012

TEMA: “DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI”

Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2012 dimulai pada hari Rabu Abu, 22 Februari 2012 sampai dengan hari Sabtu Vigili, 7 April 2012,

“Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi’ (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang” (ibid). Semua umat beriman diajak untuk memelihara suasana tobat dan mengisi masa tobat ini dengan berbagai keutamaan hidup beriman dan tidak mudah terpengaruh atau mengikuti suasana lain di luar suasana khusus gerejani ini.

Di samping itu sebagai tanda pertobatan dan syukur, Gereja minta supaya kita semua memberi perhatian dan mengarahkan hidup kita dengan bantuan beberapa hal beriktu ini:

Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:
  • Berpantang dan berpuasa : pada hari Rabu, 22 Februari dan hari Jumat Suci, 6 April 2012. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskah hanya berpantang saja.
  • Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
  • Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
  • Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
  • Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok.

Jumat, 23 Desember 2011

EKARISTI: Tatacara Ibadah yang Diajarkan oleh Para Rasul dan Jemaat Perdana

Seringkali terdengar pertanyaan yang mempertanyakan dan meragukan bahwa tatacara ibadah yang dilakukan oleh umat Gereja Katolik setiap hari Minggu - yaitu Perayaan Ekaristi - adalah hanya 'rekayasa', tidak memiliki dasar Alkitabiah dan tidak diajarkan/diwariskan oleh para Rasul. Untuk sekedar memberi gambaran bahwa tatacara Perayaan Ekaristi adalah benar ajaran dan warisan Para Rasul dan telah dikenal sejak Jemaat Perdana, ada baiknya kita mengenal dan mengetahui sedikit tulisan St. Yustinus (martir). Saya sungguh bersyukur bahwa St. Yustinus menjadi nama baptis saya. Suatu kebanggaan tersendiri bahwa St. Yustinus yang hidup di awal-pertengahan Abad II adalah salah satu orang kudus yang menulis tentang tata ibadah yang selalu diadakan oleh Jemaat Perdana, sehingga daripadanya kita mengenal bagaimana Jemaat Perdana (Kisah Para Rasul) melakukan kebaktian/ibadah.


St. Yustinus Martir adalah seorang Bapa Gereja di abad awal yang menulis tentang pengajaran iman Kristiani. Ia adalah seorang filsuf Kristen dan seorang apologist, kelahiran Flavia Neapolis yang wafat 165 AD sebagai martir di Roma. Setelah pertobatannya menjadi Kristen St. Yustinus mengajar di Efesus sampai tahun 135, maka diperkirakan ia mempelajari tentang iman Kristen di sana, kemungkinan dari para murid Rasul Yohanes yang hidup di Efesus. Buku St. Yustinus yang terkenal antara lain adalah First Apology, yang di dalamnya memuat ajaran tentang Ekaristi dan Liturgi. Dalam bab 61-67 St. Yustinus menuliskan secara ringkas tentang tata cara penyembahan Kristiani. Ia memulai dengan Liturgi Baptisan yang disebutnya dengan “Penerangan” (illumination). Pada bab 65-66, ia menuliskan tentang Ekaristi demikian:

Rabu, 21 Desember 2011

Dasar Alkitabiah Sakramen Pengampunan Dosa

Pada masa adven ini, beberapa umat Gereja Katolik mengaku sudah tidak melakukan pengakuan dosa kepada imam selama bertahun-tahun, karena mereka beranggapan dan terpengaruh oleh pendapat bahwa tidak diperlukan pengakuan dosa bagi pengampunan dosa, lagipula tidak ada dasar Alkitab tentang Sakramen tersebut. Sehubungan dengan hal ini, beberapa pertanyaan sering dilontarkan kepada Gereja Katolik tentang Penerimaan Sakramen Pengampunan Dosa atau Sakramen Tobat, yaitu: "Mengapa dalam Gereja Katolik ada Sakramen Tobat?" Dua alasan yang sering diajukan adalah :

Bukankah hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa?, dasarnya adalah Mark 2:7 dan 1 Yoh 1:9 dst.
Terhadap hal ini Gereja dapat memberikan keberatan antara lain:
  • Bila kita melihat konteks dari Mark 2:7 "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Jelas disana ungkapan dari musuh-musuh Yesus, yang menganggap Ia menghujat Allah
  • Bila kita melihat konteks 1 Yoh 1:9 "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Jadi jelas bahwa disini mengandung arti bahwa Allah selalu bersedia untuk mengampuni dosa kita bila kita mengaku dosa dan tidak ada larangan untuk mengakukan dosa kepada Imam atau apapun yang akan kita bahas pada paragraf selanjutnya nanti.
Bukankah dosa itu urusan pribadi Allah dengan kita??.......
Terhadap hal ini kita dapat menjawab bahwa dosa menjadi urusan Gereja karena kita dengan Gereja seluruhnya adalah tubuh mistik Kristus bila kita berdosa yang merasakan akibat dosa itu tidak hanya kita tetapi juga Gereja. Berikut beberapa contoh hal tersebut dalam kitab suci:
  • 1 kor 5:1-5 berbicara tentang Paulus yang menghukum orang yang menikah dengan isteri ayahnya dan memerintahkan supaya orang tersebut dikucilkan dari jemaat dengan maksud supaya pada akhirnya jiwanya diselamatkan.
  • 2 Kor 2:5-11 berbicara tentang Paulus (dan jemaat Korintus) yang mempunyai wewenang untuk mengampuni dosa seorang anggota jemaat.
  • Mat 18:15-20 berbunyi, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata ... Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat."
Ayat-ayat ini mengandaikan bahwa jemaat memiliki kuasa untuk mengadili dan mengampuni dosa anggota jemaat. Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa dosa bukanlah soal pribadi antara si pendosa dan Allah saja! Itu urusan Gereja juga.

Selasa, 20 Desember 2011

Tatacara Pengakuan Dosa dengan Baik dan Benar

Konsili Vatikan II menetapkan bahwa “Upacara dan rumus untuk Sakramen Tobat hendaknya ditinjau kembali sedemikian rupa, sehingga hakekat dan buah sakramen terungkap secara lebih jelas” (Sacrosanctum Concilium, no. 72). Oleh karena itu, Kongregasi untuk Ibadat menerbitkan Ritus Sakramen Tobat pada tahun 1973. Ritus yang baru ini menambahkan pilihan doa-doa, menyediakan bacaan dari Kitab Suci serta memperkenalkan “pelayanan-pelayanan Sakramen Tobat” dengan pengakuan pribadi. Namun demikian, ketentuan tersebut menetapkan, “bagi para imam, dan khususnya para imam paroki dalam melayani individual maupun komunitas, hendaknya menyesuaikan ritus dengan kondisi konkrit peniten (no. 40)”. Sebab itu, pada hari Sabtu sore dengan antrian peniten menunggu giliran mengaku dosa, imam paroki dapat menggunakan ritus yang lebih “efisien”, yang mencakup format tradisional yang biasa dipergunakan dalam pengakuan.

PEMERIKSAAN BATIN

Pengakuan dosa dalam Penerimaan Sakramen Tobat haruslah dimulai dengan pemeriksaan batin. Selalu mulai dengan mengingat. Pikirkan orang-orang yang ada di sekitar kita. Mungkin diawali dengan keluarga. Kemudian yang lainnya juga: sanak saudara, tetangga, rekan sekerja, teman sekolah, orang yang kita potong jalannya di jalan raya minggu lalu, dan sebagainya, dan sebagainya. Pikirkan tentang kejadian-kejadian baru-baru ini dalam hidup kita yang melibatkan orang-orang tersebut. Pengaruh apakah yang kita berikan kepada mereka? Apakah yang telah kita lakukan sehingga menyakiti mereka? Juga, apakah yang seharusnya kita lakukan, tetapi tidak kita lakukan? Adakah seseorang yang membutuhkan pertolongan dan kita tidak menawarkan pertolongan?

Sekarang tarik mundur ingatan agak sedikit jauh ke belakang. Kemungkinan kita tidak melakukan suatu dosa besar atau “dosa berat”, tetapi adakah dosa-dosa yang merupakan kebiasaan, yang kita lakukan dan lakukan lagi. Setetes air hujan mungkin tidak berarti, tetapi jika tetesan-tetesan itu ditampung untuk jangka waktu yang lama, maka tetesan hujan itu dapat mengakibatkan banjir! Suatu ejekan, yang kecil dan sepele - jika diulang dan diulang- dapat menjadi gunung kebencian.
Pada umumnya kita lupa akan sebagian besar perkara yang kita lakukan. Oleh karena itulah suatu sarana sederhana diperlukan untuk membantu. Sarana itu disebut “Pemeriksaan Batin” yaitu suatu daftar pertanyaan untuk diajukan kepada diri sendiri sebelum kita mengaku dosa. Suara Batin atau Hati Nurani adalah kesadaran moral atau etik atas kelakuan kita dengan dorongan untuk memilih yang baik dari yang jahat. Suara batin haruslah dibentuk dalam terang Sabda Allah, yaitu melalui Gereja.

Rabu, 14 Desember 2011

DASAR ALKITABIAH SYAHADAT PANJANG

Syahadat Nicea-Konstantinopelatau yang lebih dikenal sebagai Syahadat Panjang dapat ditemukan dalam Buku Puji Syukur No.2. Selengkapnya berbunyi :

Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;

dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.

Aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
amin.

Berikut adalah dasar alkitab Syahadat Nicea Konstantinopel :

Selasa, 01 November 2011

Sulitnya Menggapai Kesucian di Masa Kini

Hari ini gereja memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus. Asal mula yang tepat dari perayaan ini tidak diketahui dengan pasti, walau, sesudah disahkannya kekristenan pada tahun 313 M, suatu peringatan umum demi menghormati para kudus, khususnya para martir, muncul di berbagai wilayah di segenap penjuru Gereja. Sebagai contoh di Timur, kota Edessa merayakan pesta ini pada tanggal 13 Mei; Siria merayakannya pada hari Jumat sesudah Paskah; kota Antiokhia merayakannya pada hari Minggu pertama sesudah Pentakosta. Baik St Efrem (wafat 373) dan St Yohanes Krisostomus (wafat 407) menegaskan akan adanya perayaan ini dalam khotbah mereka. Di Barat, suatu peringatan demi menghormati semua orang kudus juga dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah Pentakosta. Alasan utama menetapkan suatu pesta umum ini adalah karena kerinduan untuk menghormati sejumlah besar martir, teristimewa yang wafat dalam masa penganiayaan oleh Kaisar Diocletion (284-305), yaitu masa penganiayaan yang paling luas, keji dan bengis. Singkatnya, tidak akan ada cukup hari dalam satu tahun apabila masing-masing martir dirayakan tersendiri, lagipula kebanyakan dari para martir ini wafat dalam kelompok. Sebab itu, suatu pesta umum bagi semua orang kudus, dianggap paling tepat.

Penetapan tanggal 1 November sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus berkembang seturut berjalannya waktu. Paus Gregorius III (731-741) mempersembahkan suatu oratorium di Basilika St Petrus yang asli demi menghormati semua orang kudus pada tanggal 1 November (setidaknya demikian menurut beberapa catatan), maka kemudian tanggal ini menjadi tanggal resmi untuk merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus di Roma. St. Beda (wafat 735) mencatat HR Semua Orang Kudus dirayakan pada tanggal 1 November di Inggris, dan perayaan serupa juga ada di Salzburg, Austria. Ado dari Vienne (wafat 875) menceritakan bagaimana Paus Gregorius IV meminta Raja Louis yang Saleh (778-840) untuk memaklumkan tanggal 1 November sebagai HR Semua Orang Kudus di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi yang Kudus. Buku Doa Misa dari abad ke-9 dan ke-10 juga menempatkan HR Semua Orang Kudus dalam penanggalan liturgi pada tanggal 1 November.

Menurut seorang sejarahwan Gereja perdana, John Beleth (wafat 1165), Paus Gregorius IV (827-844) secara resmi memaklumkan tanggal 1 November sebagai HR Semua Orang Kudus, memindahkannya dari tanggal 13 Mei. Tetapi, Sicard dari Cremona (wafat 1215) mencatat bahwa Paus Gregorius VII (1073-85) akhirnya menghapus tanggal 13 Mei dan mengamanatkan 1 November sebagai tanggal perayaan HR Semua Orang Kudus.

Di masa lalu kekudusan identik dengan kemartiran. Bilamana karena imannya seorang kristen pengikut Yesus menderita bahkan menumpahkan darah, maka ia disebut martir. Hal ini terjadi terutama di masa awal Gereja berdiri. Tidak terhitung jumlah kaum beriman yang dibunuh untuk menghadang laju perkembangan iman kristiani. Namun kenyataannya: dimana darah martir tertumpah, di situ justru panggilan iman melimpah. Kejahatan manusia tidak mampu menghambat karya Roh Kudus. Di masa kini karya kemartiran nampak dalam perjuangan umat manusia menegakkan kebenaran, keadilan dan kejujuran yang bersumber dari hati nurani yang bersih. Masalahnya adalah kini hal itu sudah menjadi barang langka. Dimana budaya manusia justru menampakkan kebrobrokan moral, upaya menegakkan kebenaran justru dipandang sebagai penghambat kemajuan. Padahal hasil apapun yang dicapai dari ketidakjujuran adalah awal dari kehancuran. Pelajaran berharga bagaimana sulitnya menjadi orang kudus di masa kini nampak dalam perjuangan manusia kecil berikut :

Si Jujur yang Malah Hancur

Selasa, 09 Agustus 2011

Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman (Kol 2:7)

PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-26 TAHUN 2011 DI MADRID, SPANYOL.


Sahabat muda terkasih,

Saya sering mengingat kembali Hari Orang Muda Sedunia di Sidney pada tahun 2008 silam. Di sana, kita merayakan pesta iman, saat Roh Allah secara giat bekerja di tengah-tengah kita semua, dan membangun komunitas rohani yang secara sungguh-sungguh dapat saling berbagi dalam satu iman, di antara para peserta yang datang dari berbagai belahan dunia. Pertemuan tersebut, seperti perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, berbuah lebat dalam hidup banyak orang muda dan hidup Gereja. Sekarang kita menuju Hari Orang Muda Sedunia berikutnya, yang akan terselenggara di Madrid pada bulan Agustus 2011. Mengingat kembali masa pada tahun 1989, beberapa bulan sebelum hari bersejarah keruntuhan tembok Berlin, peziarahan orang muda seperti ini pernah dilakukan di Spanyol pula, waktu itu di Santiago de Compostela. Sekarang, saat masyarakat Eropa sedang dalam kebutuhan besar untuk menemukan kembali akar Kekristenan mereka, pertemuan kita akan mengambil tempat di Madrid, dengan tema : “Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman” (bdk. Kol 2: 7). Saya menyemangati Anda untuk mengambil bagian dalam peristiwa ini, yang merupakan peristiwa penting bagi Gereja di Eropa dan bagi Gereja sedunia. Saya mengajak kalian semua orang muda, baik yang saling berbagi iman dalam Yesus Kristus, maupun kalian yang ragu dalam ketidakpastian, atau kalian yang tidak percaya akan Dia, untuk berbagi pengalaman ini, yang akan membuktikan kepastian hidup kalian. Inilah pengalaman akan Tuhan Yesus yang bangkit dan hidup, dan pengalaman akan kasihNya bagi kita masing-masing.

1. Pada sumber Keinginanmu yang terdalam

Dalam setiap periode sejarah kehidupan, termasuk periode kita, banyak orang muda memiliki kerinduan yang mendalam akan relasi pribadi, yang ditandai oleh kebenaran dan solidaritas. Banyak dari mereka membangun hubungan persahabatan yang tulus, untuk mengenal cinta sejati, untuk memulai hidup berkeluarga yang diharapkan manunggal bersatu, untuk mencapai kepenuhan pribadi dan kemapanan hidup yang nyata, serta semua hal yang menjamin masa depan yang bahagia dan tenang. Ketika mengenangkan masa muda saya sendiri, saya tersadar bahwa kemapanan dan perasaan aman nyaman bukanlah pertanyaan yang memenuhi pemikiran generasi muda. Memang cukup benar, bahwa pentinglah memiliki pekerjaan agar dengan itu memiliki pijakan yang kokoh. Namun selain itu, tahun-tahun masa muda merupakan juga waktu, saat kita mencari yang terbaik dari hidup kita. Ketika saya membayangkan kembali masa muda itu, saya ingat semua bahwa kita tidak ingin hidup nyaman demi kehidupan dalam kelas menengah yang mapan. Kita menginginkan sesuatu yang besar, sesuatu yang baru. Kita ingin menjelajahi kehidupan itu sendiri, dalam semua keagungan dan keindahannya. Secara alamiah, tahap itu merupakan bagian dari kehidupan yang kita alami. Selama kediktatoran Nazi dan peperangan, dapat dikatakan pada masa itu, semua orang terkungkung oleh segala peraturan dan batasan yang diciptakan oleh struktur yang sedang berkuasa. Maka, semua orang saat itu ingin mendobrak segala batasan: menginginkan adanya kebebasan, keterbukaan yang memungkinkan kita meraih peluang sebagai manusia. Saya berpikir, bahwa dorongan untuk mendobrak segala batasan yang ada, pada jangkauan tertentu, selalu menandai jiwa orang muda dari masa ke masa. Bagian dari menjadi muda, ialah hasrat akan sesuatu di balik hidup harian dan pekerjaan yang mapan, suatu kerinduan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh lebih besar.

Jumat, 01 April 2011

GAMBAR 14 PERHENTIAN JALAN SALIB

Umat katolik memiliki kebiasaan melaksanakan ibadat Jalan Salib pada masa Prapaskah sebagai salah satu bentuk pertobatan. Biasanya ibadat jalan salib diadakan di setiap gereja pada hari Jumat (hari pantang) selama masa Prapaskah dan pada pagi hari pada Hari Jumat Agung. Bagi mereka yang sibuk karena panggilan tugas dan pekerjaan demi mencukupi hidup keluarga atau mereka yang bekerja shift sore atau malam, mungkin akan terhalang untuk hadir di gereja mengikuti ibadat jalan salib. Saya pribadi kadangkala tidak dapat mengikuti ibadat Jalan Salib pada hari Jumat. Untuk "menebusnya" sering saya melakukan ibadat jalan salib pribadi/sendirian pada hari Sabtu pagi di Gereja. Selain hari Jumat selama masa Prapaskah, memang Gereja tidak pernah membatasi umat bila mau melaksanakan ibadat Jalan Salib secara pribadi atau dalam keluarga atau dalam lingkungan/komunitas kecil (entah teritorial atau kategorial). Di luar masa Prapaskah pun sebenarnya umat (entah pribadi atau komunitas) sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadat Jalan Salib dalam ziarah-ziarah rohani atau dalam waktu-waktu khusus untuk memperbaharui semangat dan spiritualitas "Jalan Salib" sebagai jalan hidup kita para pengikut Yesus, sehingga dalam saat-saat sulit, kita senantiasa mendapat peneguhan untuk terus bertahan dalam kebaikan.

Bagaimana Membuat Perhentian-perhentiannya.

Dalam beberapa kali kesempatan rekoleksi  dan retret bersama para katekumen, biasa saya melaksanakan ibadat Jalan Salib. Syukur bila di rumah retret atau villa (tepat rekoleksi/retret) ada gambar-gambar/ikon-ikon Jalan Salib, Itu bila pemilik villa menyediakannya, tapi seringkali perhentian-perhenian Jalan Salib harus dibuat sendiri. Dalam keadaan demikian, biasanya perhentian-pehentian saya buat sendiri, yaitu dengan cara membuat tulisan-tulisan perhentian pada secarik kertas, misalnya: “PERHENTIAN I: YESUS DIJATUHI HUKUMAN MATI.” Tulisan-tulisan itu saya buat sedikit besar dan mencolok dan ditulis di atas kertas yang sedikit keras/kaku, misalnya karton atau buffalo. Perhentian-perhentian sederhana ini kemudian ditempelkan di dinding atau batang-batang pohon di sekitar villa tempat kami mengadakan rekoleksi/retret; dan jadilah 14 perhentian jalan salib sederhana. Bagi saya pribadi, yang terpenting bukanlah gambar/visualisasi perhentiannya, tapi bagaimana peserta menghayati makna Jalan Salib dan pengorbanan Yesus itu dan memperoleh kekuatan rohani karenanya. Meskipun begitu, tetaplah saya merasa penting juga mem-visualisasi perhentian-perhentian pada jalan salib, terutama bilamana peserta Jalan Salib sebagian adalah anak-anak.

Dalam posting sebelumnya sudah dijelaskan bahwa terdapat 14 perhentian Jalan Salib yang menggambarkan proses penyaliban, dimulai dari penjatuhan hukuman mati yang tidak adil oleh Pilatus sampai dengan Yesus dimakamkan. Perhentian-perhentian itu adalah sebagai berikut :
  1. Yesus dihukum mati
  2. Yesus memanggul salib
  3. Yesus jatuh untuk pertama kalinya
  4. Yesus berjumpa dengan ibunya
  5. Yesus ditolong Simon dari Kirene
  6. Wajah Yesus diusap oleh Veronica
  7. Yesus jatuh untuk kedua kalinya
  8. Yesus menghibur wanita-wanita yang menangisinya
  9. Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
  10. Pakaian Yesus ditanggalkan
  11. Yesus disalibkan
  12. Yesus mati di salib
  13. Yesus diturunkan dari salib
  14. Yesus dimakamkan

Senin, 07 Maret 2011

PETUNJUK UMUM BAGI UMAT KATOLIK SELAMA MASA PRAPASKAH

(Dapat dipergunakan sebagai Bahan Tambahan Katekese atau dapat dijadikan petunjuk praktis dalammempersiapkan Prapaskah bagi para pemimpin komunitas/lingkungan).


Masa Prapaskah dimulai dengan perayaan Rabu Abu di Gereja. Dengan menerima abu, setiap umat beriman diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. “Kamu berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.” (Kej 2:7). Forma inimengingatkan kita akan kematian dan/atau kedatangan Tuhan yang dapat terjadi sewaktu-waktu seumpama pencuri di waktu malam, oleh karena itu diperlukan sikap berjaga-jaga dan bertobat: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.” Abu merupakan tanda yang mengingatkan kepada kita bahwa kita berasal dari debu tanah dan akan kembali ke abu/ debu tanah. Kita ketahui bahwa manusia pertama diciptakan Allah dari debu tanah dan semua manusia akan meninggal, dan tubuhnya akan kembali terurai menjadi debu tanah. Pada saat kita menerima tanda salib dari abu di dahi kita pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa suatu saat nanti kita akan kembali ke tanah, yaitu bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Allah yang menciptakan kita, sebab Dia berada di atas kita dan segala kesenangan dunia sifatnya sementara.

Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas yaitu mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan dan membina pertobatan. Warna Liturgi secara Umum adalah Ungu: lambang pertobatan, kecuali Tri Hari Suci atau Perayaan Wajib Selama Masa Prapaskah.

Pada tahun 2011 ini, Hari Rabu Abu diperingati pada tanggal 9 Maret 2011, di setiap Gereja Katolik akan dilaksanakan Ekaristi Rabu Abu beberapa kali untuk menerimakan abu kepada Umat. Masa Prapaskah akan dilaksanakan selama 40 hari (di luar hari Minggu, yang dipandang sebagai Hari Tuhan) mulai tanggal 9 Maret 2011 sampai dengan Hari Sabtu Vigili tgl. 23 April 2011.
Angka 40 (hari) diperoleh dari beberapa referensi dari Alkitab, yaitu: hujan selama 40 hari pada jaman Nabi Nuh sebelum Tuhan membuat perjanjian pada keluarga Nuh dan keturunannya (Kej 7:4); selama 40 hari Musa berada di puncak gunung Sinai sebelum menerima kesepuluh perintah Allah yang menjadi tanda Perjanjian Lama dengan umat Israel (Kel 24:18); perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Terjanji selama 40 tahun (Bil 14:33). Kesemuanya menandai masa pertobatan menuju suatu ‘kelahiran’ baru. Dalam Injil kitapun membaca bagaimana Yesus berpuasa 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya memberitakan kabar keselamatan (Mat 4:1-2; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-2).

St. Leo (461) adalah Bapa Gereja yang menyatakan bahwa tradisi berpuasa selama 40 hari ini merupakan tradisi dari para rasul dan ahli sejarah Socrates (433) dan St. Hieronimus Agung (420) juga mengatakan hal serupa.

Senin, 07 Februari 2011

DOA SAAT PUTUS CINTA DAN PATAH HATI

Untuk Remaja

Tuhan Yesus, tentu Engkau sedih
ketika ditinggalkan para sahabat sendirian di taman Zaitun.
Engkau juga sedih ketika saat-saat menderita di salib
tidak ada sahabat di sampingMu.
Tetapi Engkau tetap kuat dan tetap setia
untuk melaksanakan rencana dan kehendak Bapa.

Kini hatiku juga sedih sebab aku ditinggalkan oleh orang yang kukasihi,
sebab kasih sayang yang selama ini aku jaga telah pergi.
Aku merasa seorang diri.
Aku merasa sedih dan amat menderita.
Tolonglah aku agar tidak merasa sendirian
untuk menanggung beban perasaan sakit dan patah hati ini.
Aku amat membutuhkan penghiburan dariMu.
Hiburlah aku ya Yesus.
Temani dan kuatkanlah aku dengan cinta kasihMu,
agar aku kuat untuk tetap bertahan
sehingga jalanku tidak menyimpang dariMu.
Tunjukkanlah jalan yang harus kutempuh
sebab aku percaya rencanaMu selalu indah bagiku,
bahwa Engkau selalu menghendaki yang terbaik bagiku.

Jumat, 28 Januari 2011

Doa Saat Jatuh Cinta

Untuk Remaja

Allah Bapa di surga, sumber cinta dan kasih sayang
Aku bersyukur kepadaMu
karena aku Kauanugerahi teman dekat yang baik hati.
Aku sangat bersyukur sebab dia juga terlihat sayang kepadaku.
Aku ingin mengungkapkan rasa cintaku kepadanya,
tetapi aku belum berani.

Aku takut ia tersinggung dan marah kepadaku.
Perasaan cinta itu membuat aku gelisah dan kerap membuat aku resah.

Tuhan aku sedang jatuh cinta.
Tolonglah aku agar dapat mengatasi perasaan ini.
Tolonglah aku agar berani mengungkapkan perasaan ini kepadanya
sehingga hatiku dapat menjadi tenang.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...