Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2012

Peraturan Pantang dan Puasa keuskupan Agung Jakarta Tahun 2012

TEMA: “DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI”

Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2012 dimulai pada hari Rabu Abu, 22 Februari 2012 sampai dengan hari Sabtu Vigili, 7 April 2012,

“Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi’ (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang” (ibid). Semua umat beriman diajak untuk memelihara suasana tobat dan mengisi masa tobat ini dengan berbagai keutamaan hidup beriman dan tidak mudah terpengaruh atau mengikuti suasana lain di luar suasana khusus gerejani ini.

Di samping itu sebagai tanda pertobatan dan syukur, Gereja minta supaya kita semua memberi perhatian dan mengarahkan hidup kita dengan bantuan beberapa hal beriktu ini:

Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:
  • Berpantang dan berpuasa : pada hari Rabu, 22 Februari dan hari Jumat Suci, 6 April 2012. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskah hanya berpantang saja.
  • Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
  • Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
  • Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
  • Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok.

Minggu, 18 Desember 2011

Pesan Natal PGI-KWI 2011

PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) dan
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) 
TAHUN 2011

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar” 
(Yes. 9:1a)

Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

Kembali kita sudah berada pula di dalam suasana perayaan kedatangan Dia, yang dahulu sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya sebagai “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja damai.” (Yes. 9:5). Tokoh inilah yang disebutnya juga di dalam nubuatan itu sebagai “Terang yang besar” dan “yang dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan” (bdk. Yes. 9:1a). Inilah Kabar Gembira tentang kedatangan Sang Juruselamat Yesus Kristus Tuhan kita,, yang dahulu disampaikan oleh para malaikat di padang Efrata kepada para gembala (bdk Luk.2:8-12), dan sekarang disampaikan juga kepada kita semua di sini.

Para gembala di padang Efrata, orang-orang kecil, sederhana dan terpinggirkan di jaman Lukas, menanggapi sapaan ilahi “Jangan takut” (Luk. 2:10) dengan saling mengajak sesama yang dekat dan senasib dengan mereka dengan mengatakan satu sama lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk. 2:15). Para Majus dari Timur, telah menempuh perjalanan jauh sampai ke Yerusalem untuk mencari dan mendapatkan Dia ini, karena “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat. 2:2). Sayang sekali, bahwa di samping para gembala dan para majus dari Timur ini ada juga Raja Herodes, yang juga mendapat tahu tentang kedatangan Dia ini, tetapi dengan berpura-pura mau datang menyembah-Nya, tetapi sebenarnya bermaksud membunuh-Nya dan ketika niat jahatnya ini gagal ia malah melakukan kejahatan lain dengan membunuh anak-anak tak bersalah dari Bethehem (lih. Mat. 2: 8, 10-12).

Sabtu, 17 Desember 2011

Menghirup Udara Katolik

Oleh : David Palm

Saya dan istri dibesarkan sebagai Protestan Evangelikal, dan jika anda memberitahu kami setahun yang lalu bahwa kami akan menjadi Katolik sekarang, kami pasti akan tertawa. Menjadi Katolik bukan merupakan prospek yang kami sukai. Ketika kami pertama kali mulai dipengaruhi secara positif menyangkut hal-hal Katolik, perasaan kami bisa digambarkan sebagai berikut: "Kami telah bertemu sang musuh, dan ialah diri kami sendiri."

Saya menyesal harus menggambarkan hubungan antara kelompok Protestan Evangelikal tertentu dan Gereja Katolik dalam bahasa yang bermusuhan, tetapi demikianlah adanya ketika kami dibesarkan. Kami diajarkan bahwa Gereja Katolik telah merampas kedudukan Alkitab dengan menambahkan lapisan demi lapisan "tradisi manusia" terhadapnya dan bahwa Gereja Katolik menipu berjuta-juta orang dengan mengajarkan mereka bahwa mereka diselamatkan oleh perbuatan baik. Kami adalah Protestan yang setia. Tetapi sekarang, oleh rahmat Tuhan, kami telah melihat bahwa hanya dalam Gereja Katolik ada keutuhan iman Kristiani.

Perjalanan spiritual saya menuju iman Katolik dimulai ketika selesai dari akademi, saya masuk sebuah seminari Protestan Evangelikal yang ternama: Trinity Evangelical Divinity School. Seminari ini sangat terkenal di kalangan Evangelikal karena komitmennya kepada Alkitab sebagai satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek Kristiani. Baik pengajar maupun mahasiswa/i-nya dengan keras dan tegas membela otoritas, inspirasi, dan kebenaran Alkitab. Hal ini tidak dilakukan secara tidak intelektual seperti gaya kaum "Fundamentalis". Kami mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani, metode eksegesis dan prinsip-prinsip hermenetik (metode penafsiran Alkitab), sejarah dan teologi. Kami membaca karya-karya para teologis liberal dan belajar untuk berdebat dengan mereka dengan memakai argumentasi-argumentasi mereka. Pendeknya, kami menganggap urusan Alkitab suatu urusan yang sangat serius. Sungguh suatu lingkungan yang memberi dorongan bagi kami untuk menggunakan daya pikir kami sendiri dan memformulasikan posisi-posisi teologis yang punya dasar kuat dengan bukti-bukti objektif yang tersedia dalam Alkitab.

Yang menarik adalah bahwa kami tidak pernah membaca tulisan-tulisan para Bapa Gereja Perdana, dan juga termasuk teolog Katolik manapun kecuali Santo Agustinus (karena dia dianggap sebagai semacam pendahulu Calvinisme) dan Santo Thomas Aquinas (karena dampak tulisannya terhadap pemikiran Kristen sangat menonjol sehingga sulit untuk diabaikan). Pada umumnya kami melompat dari jaman para Rasul langsung ke jaman reformasi Protestan, sehingga pengalaman saya terhadap ide-ide Katolik sungguh nyaris tidak ada sama sekali. Akan tetapi ada dua hal yang sangat mempengaruhi pemikiran saya terhadap Katolikisme, meskipun saya tidak menyadarinya pada waktu itu.

Kamis, 15 Desember 2011

LUKISAN YANG RUSAK

Peristiwa atau masalah seberat apapun tidaklah terlalu penting, yang penting adalah bagaimana respon kita terhadap masalah itu.
===================================================

Di Eropa ada seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisannya. Lukisan ini adalah lukisan yang sangat bagus dan akan diperlihatkan pada saat pernikahan Seorang Raja terkenal. Sang pelukis sangat senang ketika menyelesaikan lukisannya dan memandangi lukisannya yang berukuran 2x8m dan sambil memandanginya pelukis tersebut tanpa disadari telah berjalan mundur. Dan ketika berjalan mundur pelukis tersebut tidak melihat ke belakang. Dia terus berjalan mundur hingga di belakangnya adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia akan mengakhiri hidupnya.


Salah seorang melihat pelukis tersebut dan hendak berteriak untuk memperingatkan pelukis tersebut tapi tidak jadi karena dia berpikir mungkin ketika mendengar teriakannya, pelukis itu akan kaget dan malah jatuh ke belakang. Kemudian orang tersebut mengambil kuas dan cat yang berada di depan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut sampai rusak. Pelukis tersebut sangatlah marah dan maju hendak memukul orang tersebut. Tetapi beberapa orang yang ada di situ menghadang dan
memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.


Sabtu, 10 Desember 2011

Menjadi Pribadi yang Luar Biasa

~Ketika kerjamu tidak dihargai
» maka saat itu kau sedang belajar tentang: » Κ E Τ U L U Ș A N «

~Ketika usahamu dinilai tidak penting
» maka saat itu kau sedang belajar tentang: » Κ E I Κ Н L A Ș A N «

~Ketika hatimu terluka sangat dalam,
» maka saat itu kau sedang belajar tentang: » М E М A A F Κ A N «

~Ketika kau harus " Lelah & kecewa "
» maka saat itu kau sedang belajar tentang: » Κ E Ș U И G G U Н A N «

~Ketika kau merasa "sepi & sendiri "
» maka saat itu kau sedang belajar tentang: » Κ E Τ A И G G U Н A N «

~Ketika kau harus "membayar biaya
yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung"
» maka saat itu kau sedang belajar tentang: » KEMURAH-HATIAN «

Jumat, 09 Desember 2011

PERSEPULUHAN MENURUT GEREJA KATOLIK

Kita sering mendengar mengenai persepuluhan yang dipraktekkan oleh beberapa Gereja. Sementara Gereja Katolik sendiri tidak mewajibkan persepuluhan kepada umatnya. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan persembahan persepuluhan dan bagaimana itu dilaksanakan umat Perjanjian Lama. Mengapa orang Kristen tidak wajib lagi melakukannya? Lalu darimanakah Gereja bisa mendapatkan dana untuk kelangsungan karya pelayanannya?

Makna Persepuluhan

Praktek persepuluhan sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh orang Israel. Bangsa-bangsa Mesopotamia kuno juga mempraktekkan hukum persepuluhan untuk dipersembahkan kepada raja atau dewa-dewi mereka. Agaknya Abraham yang berasal dari tanah Ur-Kasdim cukup familiar dengan kebiasaan ini sehingga saat menang perang dia mempersembahkan 10% dari hasil jarahannya kepada Melkisedek, imam-raja Salem, yang menjadi sekutunya (Kej 14:20). Angka 10 di sini adalah lambang dari totalitas atau kepenuhan dalam sistem numerik mereka. Maka bila mempersembahkan 10%, hal ini bermakna mempersembahkan keseluruhannya.

Sementara persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Lama bermakna untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa segala harta yang mereka peroleh itu berasal dari Tuhan sendiri (bdk. Ul 12:10-11). Dengan mempersembahkannya, mereka hendak mengucap syukur atas semua anugerah itu.

Praktek Persepuluhan dalam Taurat

Dalam bangsa Israel persepuluhan dimaksudkan agar kaum Lewi (Bil 18:21) dan para imam (Bil 18:26-28) yang tidak mendapat jatah tanah, bisa tetap hidup. Yang harus dipersembahkan adalah sepersepuluh dari hasil bumi dan ternak (Im 27:30.32). Dimana mesti dimakan dan siapa saja yang boleh menikmati persembahan persepuluhan ini?

Ternyata ada praktek yang berbeda:
Pada tahun pertama dan kedua, persembahan persepuluhan itu dibawa ke tempat ibadah – yang menikmati adalah si pembawa persembahan, anak laki-laki dan perempuannya, hamba laki dan perempuannya, dan kaum Lewi yang di tempatnya (Ul 14:22-28). Jadi, tidak hanya kaum Lewi, melainkan keluarga si pembawa persembahan juga. Pada tahun ketiga persembahan persepuluhan itu tidak dibawa ke tempat ibadah, tetapi hanya diletakkan di pintu gerbang kota masing-masing dengan maksud agar orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda bisa menikmatinya (Ul 14:28-29). Jadi, pada tahun ketiga ini juga terdapat dimensi sosial untuk mereka yang kurang beruntung.

Sabtu, 19 November 2011

Naskah Gulungan Laut Mati

Naskah Laut Mati terdiri dari lebih kurang 900 dokumen, termasuk teks-teks dari Kitab Suci Ibrani, yang ditemukan antara tahun 1947 dan 1956 dalam 11 gua di Wadi Qumran dan sekitarnya (dekat reruntuhan pemukiman kuno Khirbet Qumran, di sebelah barat daya pantai Laut Mati). Teks-teks ini mempunyai makna keagamaan dan sejarah yang penting, karena mereka praktis merupakan satu-satunya dokumen-dokumen Alkitab yang berasal dari masa sebelum tahun 100 Masehi.

WAKTU PENULISAN DAN ISINYA

Menurut perhitungan tanggal karbon dan analisis teks, dokumen-dokumen ini ditulis pada berbagai masa sejak pertengahan abad ke-2 SM hingga abad pertama M. Sekurang-kurangnya satu dokumen, berdasarkan perhitungan tanggal karbon berasal dari tahun 21 SM–61 M. Papirus Nash dari Mesir, yang mengandung salinan Dasa Titah, adalah satu-satunya dokumen berbahasa Ibrani lainnya yang sangat kuno. Bahan-bahan tertulis serupa lainnya telah ditemukan dari situs-situs di dekatnya, termasuk benteng Masada. Sebagian dari naskah ini ditulis di atas papirus, namun cukup banyak pula yang ditulis di kulit binatang yang berwarna kecoklatan, yang tampaknya gevil.

Potongan-potongan ini terdiri dari sekurang-kurangnya 800 teks yang mewakili pandangan-pandangan yang berbeda-beda, dari keyakinan orang-orang Esene hingga sekte-sekte yang lain. Sekitar 30%nya adalah potongan-potongan dari Kitab Suci Ibrani, dari semua kitab kecuali Kitab Ester. Sekitar 25% merupakan teks-teks keagamaan israel tradisional yang tidak ada di dalam Kitab Suci Ibrani yang kanonik, seperti misalnya Kitab Henokh, Kitab Yobel, dan Perjanjian Lewi. Sekitar 30% lagi mengandung tafsiran-tafsiran Alkitab dan teks-teks lainnya seperti misalnya "Manual Disiplin" (1QS, yang dikenal pula sebagai "Naskah Disiplin" atau "Aturan Komunitas") dan Aturan Peperangan (1QM, juga dikenal sebagai "Naskah Peperangan") yang terkait dengan kepercayaan, peraturan, dan tuntutan keanggotaan dari sebuah sekte kecil Yahudi, yang dipercaya banyak peneliti hidup di wilayah Qumran. Sisanya (sekitar 15%) dari potongan-potongan ini belum dapat diidentifikasikan. Kebanyakan dari mereka ditulis dalam bahasa Ibrani, namun sebagian juga ditulis dalam bahasa Aram dan beberapa dalam bahasa Yunani.

Teks-teks penting mencakup Gulungan Yesaya (yang ditemukan pada 1947), sebuah tafsiran Habakuk (1947); Peraturan Komunitas (1QS), yang memberikan banyak informasi mengenai struktur dan teologi sekte ini; dan versi yang paling awal dari Dokumen Damsyik. Apa yang disebut Gulungan Tembaga (1952), yang mendaftarkan tempat-tempat penyimpanan emas, naskah, dan senjata yang tersembunyi barangkali adalah yang paling terkenal.

Selasa, 01 November 2011

Sulitnya Menggapai Kesucian di Masa Kini

Hari ini gereja memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus. Asal mula yang tepat dari perayaan ini tidak diketahui dengan pasti, walau, sesudah disahkannya kekristenan pada tahun 313 M, suatu peringatan umum demi menghormati para kudus, khususnya para martir, muncul di berbagai wilayah di segenap penjuru Gereja. Sebagai contoh di Timur, kota Edessa merayakan pesta ini pada tanggal 13 Mei; Siria merayakannya pada hari Jumat sesudah Paskah; kota Antiokhia merayakannya pada hari Minggu pertama sesudah Pentakosta. Baik St Efrem (wafat 373) dan St Yohanes Krisostomus (wafat 407) menegaskan akan adanya perayaan ini dalam khotbah mereka. Di Barat, suatu peringatan demi menghormati semua orang kudus juga dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah Pentakosta. Alasan utama menetapkan suatu pesta umum ini adalah karena kerinduan untuk menghormati sejumlah besar martir, teristimewa yang wafat dalam masa penganiayaan oleh Kaisar Diocletion (284-305), yaitu masa penganiayaan yang paling luas, keji dan bengis. Singkatnya, tidak akan ada cukup hari dalam satu tahun apabila masing-masing martir dirayakan tersendiri, lagipula kebanyakan dari para martir ini wafat dalam kelompok. Sebab itu, suatu pesta umum bagi semua orang kudus, dianggap paling tepat.

Penetapan tanggal 1 November sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus berkembang seturut berjalannya waktu. Paus Gregorius III (731-741) mempersembahkan suatu oratorium di Basilika St Petrus yang asli demi menghormati semua orang kudus pada tanggal 1 November (setidaknya demikian menurut beberapa catatan), maka kemudian tanggal ini menjadi tanggal resmi untuk merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus di Roma. St. Beda (wafat 735) mencatat HR Semua Orang Kudus dirayakan pada tanggal 1 November di Inggris, dan perayaan serupa juga ada di Salzburg, Austria. Ado dari Vienne (wafat 875) menceritakan bagaimana Paus Gregorius IV meminta Raja Louis yang Saleh (778-840) untuk memaklumkan tanggal 1 November sebagai HR Semua Orang Kudus di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi yang Kudus. Buku Doa Misa dari abad ke-9 dan ke-10 juga menempatkan HR Semua Orang Kudus dalam penanggalan liturgi pada tanggal 1 November.

Menurut seorang sejarahwan Gereja perdana, John Beleth (wafat 1165), Paus Gregorius IV (827-844) secara resmi memaklumkan tanggal 1 November sebagai HR Semua Orang Kudus, memindahkannya dari tanggal 13 Mei. Tetapi, Sicard dari Cremona (wafat 1215) mencatat bahwa Paus Gregorius VII (1073-85) akhirnya menghapus tanggal 13 Mei dan mengamanatkan 1 November sebagai tanggal perayaan HR Semua Orang Kudus.

Di masa lalu kekudusan identik dengan kemartiran. Bilamana karena imannya seorang kristen pengikut Yesus menderita bahkan menumpahkan darah, maka ia disebut martir. Hal ini terjadi terutama di masa awal Gereja berdiri. Tidak terhitung jumlah kaum beriman yang dibunuh untuk menghadang laju perkembangan iman kristiani. Namun kenyataannya: dimana darah martir tertumpah, di situ justru panggilan iman melimpah. Kejahatan manusia tidak mampu menghambat karya Roh Kudus. Di masa kini karya kemartiran nampak dalam perjuangan umat manusia menegakkan kebenaran, keadilan dan kejujuran yang bersumber dari hati nurani yang bersih. Masalahnya adalah kini hal itu sudah menjadi barang langka. Dimana budaya manusia justru menampakkan kebrobrokan moral, upaya menegakkan kebenaran justru dipandang sebagai penghambat kemajuan. Padahal hasil apapun yang dicapai dari ketidakjujuran adalah awal dari kehancuran. Pelajaran berharga bagaimana sulitnya menjadi orang kudus di masa kini nampak dalam perjuangan manusia kecil berikut :

Si Jujur yang Malah Hancur

Sabtu, 22 Oktober 2011

Keakuratan Sejarah Alkitab

Setiap buku yang mengklaim mencatat rangkaian peristiwa sejarah yang dapat dipercaya harus menjalani ujian keakuratan mengenai pokok bahasan, waktu, adat istiadat, tempat dan tokoh-tokohnya. Meskipun Alkitab menyampaikan kebenaran rohani, bukan berarti ujian keakuratan sejarah tidak perlu dikenakan kepadanya. Alkitab siap menghadapi ujian ini walaupun ditulis oleh lebih dari 50 penulis dari berbagai macam latar belakang budaya dalam jangka waktu lebih dari 1500 tahun. Jika catatan penulis Alkitab terbukti tidak sesuai dengan fakta sejarah maka kebenaran rohani yang Alkitab ajarkan pun patut dipertanyakan. Akan tetapi, jika catatan penulis Alkitab sesuai dengan fakta sejarah maka ajaran Alkitab pun layak diterima kesahihannya.

Catatan Alkitab terus-menerus menghadapi berbagai ujian berkaitan dengan keakuratan sejarahnya. Orang-orang skeptis dan para arkeolog kerap mempertanyakan hal itu. Namun demikian, Alkitab terbukti memiliki keakuratan sejarah yang unik dan tidak tertandingi oleh kitab-kitab keagamaan lainnya.

Marilah kita terlebih dahulu membahas beberapa contoh arkeologis awal tentang ujian Alkitab dan kesimpulan ilmiah yang dihasilkannya. Sebagai contoh, pada abad kesembilan belas orang-orang skeptis dan para arkeolog menuduh Alkitab membuat pernyataan fiktif ketika menyebutkan bangsa Het karena tak ada satu pun bukti di luar Alkitab tentang bangsa itu. Tetapi setelah tahun 1906, penggalian di Hattushash – yang terbukti sebagai ibukota bangsa Het – mengubah apa yang semula dianggap mitos sebagai kenyataan sejarah yang akurat. Arkeologi mengungkapkan bahwa bangsa Het pemah muncul sebagai bangsa yang kuat. Penggalian tersebut mengesahkan sepenuhnya catatan Alkitab. Sebuah loh batu dari Mesir mencatat pertempuran sengit antara Ramses II dan bangsa Het di Kadesy di Sungai Orontes. Catatan Alkitab terbukti sebagai sejarah yang akurat.

Ilmuwan semula menuduh catatan Alkitab tentang Belsyazar sebagai catatan yang salah karena tidak ada catatan selain Alkitab yang menyebutkan raja ini. Akan tetapi, pada tahun 1853 para arkeolog menemukan sebuah prasasti di Ur yang memperkuat catatan Alkitab. Prasasti itu menunjukkan bahwa Belsyazar memerintah dengan ayahnya Nabonides. Arkeologi terus menguatkan catatan Alkitab. Dr. J.O. Kinnaman menegaskan keakuratan sejarah Alkitab yang menakjubkan ini dengan mengatakan, "Dan ratusan ribu benda purbakala yang ditemukan oleh para arkeolog. tak satu pun yang berlawanan atau menyangkal satu kata, frasa, klausa atau kalimat dalam Alkitab, namun justru selalu menguatkan dan membuktikan fakta catatan Alkitab."

Jumat, 21 Oktober 2011

KEMANAKAH HATI NURANI?

Baru-baru ini seorang katekumen bertanya kepada saya: Apakah benar suara hati adalah suara Tuhan? Saya pribadi menanggapinya dengan sharing pribadi ialah: hanya suara hati yang terbina, terasah dan terarah pada Tuhan yang dapat menjadi saluran suara Tuhan. Sedikit renungan dapat diambil dari kejadian akhir-akhir ini di China tentang kisah tabrak lari seorang anak di di sebuah pasar yang dibiarkan begitu saja oleh orang-orang yang melihatnya.

Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?

Gambar video tentang seorang bocah China yang ditabrak lari dan dibiarkan sekarat oleh 18 pelintas di pasar yang sibuk di kota Foshan, Provinsi Guandong, Kamis (13/10/2011), memunculkan pertanyaan. Ada apa dengan masyarakat negara itu. Benarkah mereka telah jadi apatis, tak peduli dengan sesamanya yang sedang celaka. Kalau benar, mengapa?

Video yang diambil dari rekaman kamera pemantau dan diposting di YouTube serta situs sejenis di China, Youku, memperlihatkan, seorang pengemudi van menabrak bocah dua tahun itu, yang bernama Yue Yue. Van itu hanya berhenti sejenak tetapi kemudian melaju lagi. Adegan selanjutnya sulit dipercaya! Selama tujuh menit tercatat 18 orang melintas dan melihat bocah itu terkapar-sekarat dalam kubangan darah tetapi tak seorang pun yang berhenti untuk menolongnya. Dalam selang waktu itu, Yue Yue justru dilindas lagi oleh sebuah truk. Seorang perempuan pemulung, Chen Xianmei (58 tahun), orang ke 19 yang melintas. Baru dia yang tergerak hatinya. Chen memindahkan bocah itu sebelum ibunya sendiri datang dan menggendongnya.

Sikap apatis para pelintas itu memicu kecaman dan debat emosional tentang kondisi moralitas masyarakat China yang tengah berkembang pesat secara ekonomi. Sejumlah pengguna media sosial di China telah menyuarakan bahwa ketidakpedulian warga atas gadis cilik itu sebagai tanda sebuah masyarakat yang moralnya memburuk.

Minggu, 16 Oktober 2011

Katekis sebagai Ujung Tombak Pelaksanaan Tugas Magisterium Gereja

Relevansi Kanon 747 dan 773 KHK 1983


1. Panggilan hidup sebagai Katekis

Siapakah katekis itu? Katekis adalah semua umat beriman kristiani, baik klerus maupun awam yang dipanggil dan diutus oleh Allah menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Dengan kata lain profesi kehidupan seorang katekis adalah mengajar, mewartakan Sabda Allah.
Kita harus menyadari bahwa pewartaan Sabda Allah adalah bagian penting dari tugas pokok Gereja. Pewartaan Sabda Allah adalah juga tugas pokok dari semua umat beriman sebagai murid-murid Kristus. Hal itu diperintahkan oleh Kristus kepada murid-muridNya: “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28,19). Lebih jelas dan terang lagi dalam Markus 16:15-16: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. Dari apa yang telah dijelaskan di atas jelas bahwa seorang katekis tidaklah harus seorang awam, kleruspun adalah katekis.

Pastor paroki adalah katekis utama (katekis dari para katekis) dalam parokinya yang bertugas mengajar agama dan moral kristiani kepada umat yang dipercayakankan kepadanya. Sangat disayangkan, tidak banyak Pastor atau katekis yang bekerja di Paroki tekun dalam pengajaran bagi umat (katekese bagi anak-anak, remaja, mudika, orang tua, pembinaan umat tahap mistagogi sesudah komuni pertama, pembinaan keluarga pasca perkawinan tidak terurus). Katekese seringkali hanya sebatas pendalaman iman pada masa Prapaskah (APP) dan masa Advent (AAP) saja, bukan menjadi kegiatan rutin bulanan.Sudah semestinya Pastor Paroki mendukung dan mengembangkan karya-karya katekese umat karena katekese adalah ujung tombak karya pewartaan Gereja. Tanpa karya katekese tidaklah mungkin Gereja dapat berkembang.

Jumat, 14 Oktober 2011

HATI YANG MENGAMPUNI

Definisi Mengampuni:
Secara singkat mengampuni dapat dikatakan sebagai suatu tindakan untuk membebaskan seorang dari tuntututan karena telah melakukan kesalahan.
Secara lebih mendalam dapat kita definisikan pengampunan sebagai: “membuang jauh-jauh kesalahan orang dan membebaskan orang yang bersalah dari tuntutan pembalasan dengan hati yang memaafkan dan penuh belas kasih”.

Makna Dari Pengampunan secara Umum
Pengampunan mempunyai makna yang penting di dalam kehidupan sehati-hari. Setiap orang membutuhkan pengampunan dan juga harus memberikan pengampunan. Dengan pengampunan banyak masalah yang dapat diselesaikan, penyakit disembuthkan dan tidak ada waktu, pikiran dan tenaga yang terbuang dengan sia-sia.

Berapa makna Alkitabiah dari Pengampunan:

1. Pengampunan adalah suatu kebutuhan.
Di dalam “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, salah satu dari tujuh permohonan yang dipanjatkan adalah “memohon ampun” kepada Bapa. Memohon ampun ini sama pentingnya dengan memohon rezeki untuk hari ini. Memohon ampun sama pentingnya dengan permohonan agar dilepaskan dari yang jahat. Sebagaimana besarnya kita membutuhkan pengampunan dari Bapa, demikian juga besarnya kewajiban kita untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
“ Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Matius 6:12)

Selasa, 09 Agustus 2011

Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman (Kol 2:7)

PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-26 TAHUN 2011 DI MADRID, SPANYOL.


Sahabat muda terkasih,

Saya sering mengingat kembali Hari Orang Muda Sedunia di Sidney pada tahun 2008 silam. Di sana, kita merayakan pesta iman, saat Roh Allah secara giat bekerja di tengah-tengah kita semua, dan membangun komunitas rohani yang secara sungguh-sungguh dapat saling berbagi dalam satu iman, di antara para peserta yang datang dari berbagai belahan dunia. Pertemuan tersebut, seperti perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, berbuah lebat dalam hidup banyak orang muda dan hidup Gereja. Sekarang kita menuju Hari Orang Muda Sedunia berikutnya, yang akan terselenggara di Madrid pada bulan Agustus 2011. Mengingat kembali masa pada tahun 1989, beberapa bulan sebelum hari bersejarah keruntuhan tembok Berlin, peziarahan orang muda seperti ini pernah dilakukan di Spanyol pula, waktu itu di Santiago de Compostela. Sekarang, saat masyarakat Eropa sedang dalam kebutuhan besar untuk menemukan kembali akar Kekristenan mereka, pertemuan kita akan mengambil tempat di Madrid, dengan tema : “Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman” (bdk. Kol 2: 7). Saya menyemangati Anda untuk mengambil bagian dalam peristiwa ini, yang merupakan peristiwa penting bagi Gereja di Eropa dan bagi Gereja sedunia. Saya mengajak kalian semua orang muda, baik yang saling berbagi iman dalam Yesus Kristus, maupun kalian yang ragu dalam ketidakpastian, atau kalian yang tidak percaya akan Dia, untuk berbagi pengalaman ini, yang akan membuktikan kepastian hidup kalian. Inilah pengalaman akan Tuhan Yesus yang bangkit dan hidup, dan pengalaman akan kasihNya bagi kita masing-masing.

1. Pada sumber Keinginanmu yang terdalam

Dalam setiap periode sejarah kehidupan, termasuk periode kita, banyak orang muda memiliki kerinduan yang mendalam akan relasi pribadi, yang ditandai oleh kebenaran dan solidaritas. Banyak dari mereka membangun hubungan persahabatan yang tulus, untuk mengenal cinta sejati, untuk memulai hidup berkeluarga yang diharapkan manunggal bersatu, untuk mencapai kepenuhan pribadi dan kemapanan hidup yang nyata, serta semua hal yang menjamin masa depan yang bahagia dan tenang. Ketika mengenangkan masa muda saya sendiri, saya tersadar bahwa kemapanan dan perasaan aman nyaman bukanlah pertanyaan yang memenuhi pemikiran generasi muda. Memang cukup benar, bahwa pentinglah memiliki pekerjaan agar dengan itu memiliki pijakan yang kokoh. Namun selain itu, tahun-tahun masa muda merupakan juga waktu, saat kita mencari yang terbaik dari hidup kita. Ketika saya membayangkan kembali masa muda itu, saya ingat semua bahwa kita tidak ingin hidup nyaman demi kehidupan dalam kelas menengah yang mapan. Kita menginginkan sesuatu yang besar, sesuatu yang baru. Kita ingin menjelajahi kehidupan itu sendiri, dalam semua keagungan dan keindahannya. Secara alamiah, tahap itu merupakan bagian dari kehidupan yang kita alami. Selama kediktatoran Nazi dan peperangan, dapat dikatakan pada masa itu, semua orang terkungkung oleh segala peraturan dan batasan yang diciptakan oleh struktur yang sedang berkuasa. Maka, semua orang saat itu ingin mendobrak segala batasan: menginginkan adanya kebebasan, keterbukaan yang memungkinkan kita meraih peluang sebagai manusia. Saya berpikir, bahwa dorongan untuk mendobrak segala batasan yang ada, pada jangkauan tertentu, selalu menandai jiwa orang muda dari masa ke masa. Bagian dari menjadi muda, ialah hasrat akan sesuatu di balik hidup harian dan pekerjaan yang mapan, suatu kerinduan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh lebih besar.

Senin, 08 Agustus 2011

"The Exorcism of Emily Rose" Bukan Sekedar Film Pengusiran Setan

Pengantar : beberapa waktu yang lalu kami mengadakan acara nonton bareng film "The Exorcism of Emily Rose". Film ini sengaja saya putarkan untuk para katekumen setelah kami membahas materi katekese tentang Hidup kekal. Dalam pembahasan tentang hidup kekal pada pertemuan sebelumnya ada banyak macam pertanyaan sehubungan dengan sorga, neraka, api penyucian, arwah dan cara mendoakannya, roh, setan, kerasukan dan pengusiran setan. Film tersebut dipergunakan sebagai dasar/awal dan bahan untuk melanjutkan diskusi kami dalam katekese tentang Hidup Kekal.

Film "The Exorcism of Emily Rose" adalah sebuah film tentang pengusiran setan, saat ini sedang menjadi bahan tontonan dan perbincangan, tak terkecuali bagi orang Katolik. Film berjudul The Exorcism of Emily Rose (TEER) berkisah tentang exorsisme (pengusiran setan) terhadap gadis berusia 20 tahun, bernama Emily Rose. Seorang pastor bernama Richard Moore yang berniat baik menolong Emily dan melakukan praktik eksorsisme justru dianggap lalai hingga diajukan ke pengadilan. Kematian Emily Rose yang misterius menimbulkan pertanyaan, antara ia meninggal karena penyakit psikis akut atau memang karena kerasukan setan.

TEER diliris pada bulan September 2005 lalu. Sutradaranya bernama Scott Derrickson seorang penganut Kristen. Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata Anneliese Michel, seorang gadis Katolik Jerman yang mati pada tahun 1976. Ia meninggal beberapa minggu setelah gagalnya upaya pengusiran setan oleh pastor Richard Moore. Gereja Katolik sebenarnya menghendaki eksorsisme tergantung dari kondisi orang yang kerasukan setan dan sesuai permintaan si penderita. Namun telanjur sudah, pengadilan memutuskan bahwa kematiannya disebabkan oleh penghentian mengkonsumsi obat, sebagaimana saran Pastor Richard terhadap Emily. Padahal penghentian itu dimaksudkan untuk memuluskan eksorsisme. Kisah film ini menampilkan perjuangan pelepasan dari kekuatan supranatural sehingga tampak sebagai film horor. Film ini skenarionya ditulis Scott Derickson dan Paul Harris Boardman.

Kamis, 04 Agustus 2011

S A H A B A T


"A friend in need is a friend indeed," yang berarti teman dalam kesusahan adalah teman sejati, pantas untuk kita renungkan. Teman yang membantu, mendampingi di saat "jatuh" serta benar-benar memberikan pertolongan adalah teman yang tulus hati. Mereka akan tetap setia dalam suka maupun duka. Marcus Tullius Cicero (106 - 43 SM), pernah berkata, "Amicus certus in re incerta cernitur" yang berarti sahabat sejati ditentukan ketika ada hal yang tidak pasti. Ini berarti pula bahwa sahabat sejati ditentukan ketika seseorang sedang menghadapi permasalahan. Seorang sahabat tidak akan meninggalkan sendiri dalam kemelut permasalahannya, namun dia akan mendampingi.

Dongeng klasik tulisan H.C. Andersen (1805 - 1875) yang berjudul, "The Travelling Companion" menceriterakan kisah John - yang walaupun - sebatang kara dan miskin, ia memberikan semua uangnya untuk menolong orang yang sudah meninggal dunia. Setelah itu, ia menjalani hidup tanpa uang saku atau bekal yang berarti. Namun di tengah perjalanan ia menemukan teman, yaitu Tom. Teman itu sangat baik dan banyak membantu John ketika menghadapi kesulitan. Akhirnya John bisa hidup bahagia berkat pertolongannya. Itulah cerita dari "The Traveling Companion." Kalau ditilik dari asal katanya (etimologi), kata "companion" berasal dari kata "cum" (bersama) dan "panis" (roti). Arti harfiahnya adalah makan roti bersama, makan dari roti yang sama, sharing bersama, berjalan bersama-sama. Kebersamaan - idealnya - selalu disertai dengan makan bersama. Suasana hati yang sedang makan, tentu disertai dengan rasa gembira. Jika dalam makan bersama itu ada ganjalan hati, tentu saja makanan - bagaimana pun nikmatnya - tidak akan tertelan.

Rabu, 03 Agustus 2011

C E M B U R U

Bahasa Ibraninya Cemburu adalah qin’a. Kata itu aslinya ialah menyala, kemudian berarti warna merah yang kelihatan pada wajah seseorang yang diliputi perasaan membara, lalu perasaan tidak senang terhadap seseorang yang memiliki sesuatu, yang tidak dimiliki sendiri. Kata itulah yang dikenakan pada sikap Rahel terhadap kakaknya. Ketika dilihat Rahel bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, ceburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub, "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati." (Kej. 30: 1). Rahel cemburu terhadap Lea yang dikaruniai banyak anak, sedangkan dirinya belum mendapatkan seorangpun. Kecemburuan ini disebabkan karena dirinya tidak memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain. Tetapi ketika anak-anak Rahel yakni Yusuf dan Benyamin disayangi Yakub, maka pada gilirannya anak-anak Lea cemburu kepada Yusuf si tukang mimpi itu, sehingga sampai hati menjual kepada orang asing (Kej. 37: 12 – 36). Kecemburuan sungguh mempunyai efek yang luar biasa.

Ada sebuah kisah rekaan tentang rasa cemburu yang mungkin bisa untuk kita renungkan. Diceriterakan dua orang ibu pedagang sembako (Sembilan bahan pokok) yang warungnya berhadapan. Tetapi amat disayangkan bahwa mereka berdua memiliki rasa saling cemburu satu dengan lainnya. Pada suatu hari, datanglah seorang malaikat untuk memberikan sesuatu kepada salah satu ibu. Katanya, pada suatu kali kepada seorang ibu, “Ibu, saya akan memberikan kepada ibu sesuatu. Jika saya memberi ibu satu rumah baru, maka ibu di seberang jalan itu akan saya beri dua rumah baru. Jika Saya membuat warung ibu laris dua kali lipat, maka ibu di seberang ibu akan mendapatkan laba empat kali lipat. Sekarang ibu minta apa dari padaku?” Ibu itu berpikir sejenak, kemudian berkata, “Malaikat yang baik, saya minta butakan mataku sebelah kiri saja, supaya ibu di seberang jalan tersebut matanya buta dua-duanya.” Orang mau menderita – asal – orang yang dicemburui itu lebih menderita. Cerita rekaan tadi merupakan kecemburuan karena kepemilikan yang kurang. Orang menjadi puas, jika dirinya sudah berkelebihan dan orang lain yang adalah “saingannya” berada di bawahnya. Orang yang memiliki rasa cemburu kepemilikan, senantiasa berusaha menjadi “orang yang lebih”. Perasaan ini yang membuat dirinya tidak tenang dan tidak merasa berdamai dan dia terus-menerus berusaha hidup dalam situasi yang tidak nyata.

Silsilah Yusuf dan Maria (Mungkinkah Matan adalah Kakek dari Yusuf dan Maria?)

Masih berkaitan dengan peringatan St. Anna dan Yoakim pada tanggal 26 Juli yang baru lalu; dan berkaitan dengan Kelompok Katekumen Lansia St. Anna dan Yoakim yang kami layani, semalam kemi berkumpul dengan beberapa orang katekis lintas Paroki dan berdiskusi tentang beberapa hal tentang katekese, termasuk diantaranya tentang Silsilah Yusuf dan Maria.

Ada pertanyaan mengganjal: mengapa Joakim tidak disebut dalam silsilah Yesus menurut Penginjil Mateus 1:1dst dan Lukas: 3: 23 dst?

Mungkin ada orang yang dengan cepat akan mengatakan: Tentu saja Joakim tidak disebut, karena silsilah Yesus itu untuk melacak garis keturunan Yesus sampai Raja Daud melalui Yusuf, bukan melalui Maria. Sedangkan Yoakim adalah ayah Maria. Orang yang mejawab demikian tidak paham tentang adanya perbedaan pendapat antara para ahli dalam soal itu. Karena ada ahli juga yang berpendapat bahwa silsilah Lukas adalah garis keturunan Yesus secara natural melalui Maria, sedangkan silsilah Mateus adalah garis keturunan Yesus secara legal (dan regal) melalui Yusuf.

Senin, 01 Agustus 2011

Merayakan Ekaristi dengan Baik dan Benar

Dalam beberapa kali kesempatan ada katekumen atau umat Katolik baru mempertanyakan tentang adanya beberapa perbedaan dalam merayakan Ekaristi di beberapa Paroki. Saya pribadi biasanya kemudian mempersilahkan mereka untuk melihat sendiri bagaimana tatacara merayakan Ekaristi sesuai TPE (untuk Katekumen akan diberi pengarahan khusus ketika membahas Tema Sakramen Ekaristi). Tetapi sehubungan akhir-akhri ini sudah menjadi "salah kaprah" di beberapa kalangan umat akan tatacara merayakan Ekaristi yang baik dan benar, ada baiknay saya posting penjelasan tentang bagaimana merayakan Ekaristi dengan baik dan benar serta tidak menyalahi tata aturan sesuai TPE kita, sebagai berikut :


  1. Masuk ke Gereja membuat tanda salib. Jgn buru-buru, tetapi hayatilah dan syukurilah bahwa karena rahmat Baptis anda bisa bergabung ke dalam persekutuan Gereja. Jangan membiasakan memberi air suci pada orang lain dengan mengulurkan jari anda. Ketika anda dibaptis anda dipanggil dengan nama pribadi anda, berarti sangat personal, maka tanda salib jangan dibuat dengan asal-asalan

Jumat, 29 Juli 2011

I S T I R A H A T

Beristirahat juga termasuk satu tugas yang harus kita lakukan karena dengan ini kita akan bisa melayani dengan baik.

Cobalah belajar bagaimana beristirahat yang benar. Bila kita bisa menghindar dari keadaan menjadi sangat kelelahan tentunya kita akan bisa beristirahat dengan baik. Allah ingin kita menjaga kesehatan kita, Dia juga ingin kita mengenal bagaimana kita memulihkan kekuatan kita. Ini merupakan bagian dari perintah Allah kelima. Kita perlu beristirahat agar tubuh kita kembali fit, untuk mengembalikan energi kita yang terbuang sehingga kita dapat kembali bekerja secara lebih efektif. Yang terpenting adalah kita butuh beristirahat agar kita dapat melayani Allah dan orang lain dengan lebih baik.

Ingatlah bahwa Allah ingin semua ciptaanNya bisa mengalihkan sejenak pikiran dan konsentrasinya. Bagaimana seekor keledai bisa menjalankan tugasnya bila dia tidak diberi makan atau diberi cukup istirahat, atau bila semangatnya turun karena terlalu banyak lecutan yang diterimanya? Nah, begitu pula dengan tubuhmu, persis seperti tubuh keledai ini, dan memang keledai kecil ini yang dipilih Allah di Yerusalem. Tubuhmu yang bisa diidentikkan dengan keledai ini membawamu melewati perjalanan hidupmu di bumi. Tubuhmu harus dikendalikan agar tidak menyimpang dari rencana yang sudah Allah tentukan bagimu. Kalian juga harus menyemangatinya agar dia bisa melangkah cepat dengan riang gembira sekalipun kalian sedang berbeban berat. Saat kita lelah kita akan lebih sulit mengerjakan segala hal, yaitu melakukannya menurut cara yang Allah ingin kita lakukan. Tentu ada saat-saat kita cenderung bertindak di luar kasih, kesalahan yang disebabkan karena kelalaian kita. Pengalaman menunjukkan pada kita bahwa ketika seekor keledai kelelahan, dia maunya duduk di manapun juga.

Jumat, 06 Mei 2011

Kebangkitan Yesus : Dasar Keselamatan Manusia Seutuhnya

SEBUAH KAJIAN
(Materi Katekese Dewasa)

Kebangkitan Yesus dan Hubungannya dengan Keselamatan Manusia

Perjanjian Baru mewartakan tanpa ragu-ragu bahwa Yesus telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati (Kis 13:30), dan karenanya Ia telah beralih dari kematian kepada kehidupan. Perjanjian Baru juga mencatat bahwa sesudah kebangkitanNya, Yesus berkali-kali menampakkan diri kepada para muridNya. Dalam penampakan-penampakan ini, Injil mencatat, bahwa Ia berusaha meyakinkan para muridNya bahwa Dia benar-benar telah bangkit dari kematian dan kini hidup (Lukas 24:41-43), siapa yang hadir di tengah-tengah mereka adalah Yesus yang telah mereka kenal dan telah bergaul akrab dengan mereka dahulu. Ia menunjukkan bukti-bukti fisik sampai kemudian para murid percaya bahwa Yesus benar-benar telah hidup (Yohanes 21:12). Tetapi kehidupan Yesus sesudah kebangkitanNya digambarkan oleh Kitab Suci sangat berbeda dengan hidup Yesus sebelum kematianNya. Ada perbedaan besar antara hidup sebelum dan sesudah kebangkitanNya. Kitab Suci menggambarkan adanya suatu kemampuan luar biasa yang ada pada diri Yesus, yang membuat Ia mampu mengatasi ruang dan waktu (Yohanes 20:19,26). Hidup yang ada pada Diri Yesus sesudah kebangkitanNya adalah hidup yang baru. Ia pun berusaha menjelaskan makna kematian dan kebangkitanNya (Lukas 24:25-27, 44-47) seraya memberi perintah pada para muridNya untuk mewartakan Injil (Matius 27:19-20, Markus 16:15) dan menjadi saksi akan semuanya yang telah terjadi itu (Lukas 24:48).

Kejadian Yesus yang bangkit dari kematian dan mengalami hidup baru bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, yang hanya menyangkut diri Yesus pribadi. Perjanjian Baru percaya bahwa bahwa apa yang dialami oleh Yesus menyangkut diri orang lain juga. Bahkan nuansa inilah yang sangat kental mewarnai pewartaan Injil dalam Perjanjian baru, yaitu bahwa Yesus yang telah mati dan dibangkitkan itu mewakili seluruh umat manusia, dan juga bahwa Ia menjadi yang pertama mengalaminya, untuk kemudian semua yang percaya kepadaNya akan mengalami hal serupa (Roma 8:29). Yesus yang telah mati karena dosa-dosa kita (1 Kor 10:4) dan kemudian dibangkitkan menjadi gambaran masa depan umat beriman. Jika Yesus tidak bangkit maka hidup manusia akan terus berakhir pada kematian. Kematian adalah nasib setiap manusia karena dosa Adam (Roma 6:23). Yesus yang bangkit digambarkan oleh Paulus sebagai Adam yang baru, yang membawa kehidupan dan keselamatan (Roma 5:17). Jadi di dalam Yesus yang dibangkitkan, maut telah dikalahkan dan manusia memperoleh harapan akan kehidupan dan keselamatan. Keselamatan yang digambarkan dalam Perjanjian Baru adalah kehidupan baru (1 Kor 5:17, Roma 6:4-5). Kehidupan baru yang dilukiskan dalam Kitab Suci jauh lebih mulia, melebihi eksistensi kehidupan lama (sebelum kebangkitan) dalam diri manusia Yesus. Dengan kebangkitan, kehidupan benar-benar diperbarui.

Hidup baru yang digambarkan dalam Perjanjian Baru berarti juga bahwa kehidupan yang lama telah ditinggalkan. Kehidupan lama digambarkan oleh Paulus sebagai kehidupan menurut daging yang penuh dosa (Gal 5:16-26, Ef 5:1-21), yaitu masih adanya keterikatan pada perbuatan-perbuatan dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan menodai martabat manusia. Kebangkitan Yesus dapat juga dipandang sebagai penciptaan kembali (Lumen Gentium (LG) 7, 48), artinya pembaharuan hidup manusia seluruhnya. Kebangkitan diartikan sebagai sebuah penyempurnaan penciptaan dan eksistensi yang baru itu sebagai peningkatan eksistensi yang lama. Tindakan penyelamatan Allah lewat pembangkitan bermaksud untuk mengoreksi segi negatif dari ciptaan, yaitu dosa, untuk kemudian menyempurnakan segi yang positif. Jadi ciptaan (manusia) yang telah berada dalam jalan menuju kematian karena dosa, dalam Kristus yang dibangkitkan menemukan kembali jalan menuju kehidupan dan keselamatan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...