Tinjauan singkat berdasarkan Redemptionis Sacramentum dan Pedoman Umum Misale Romawi.
Kebanyakan orang memandang prodiakon adalah bentuk nyata dari partisipasi aktif umat beriman dalam kegiatan liturgi. Umumnya mereka yang berpendapat demikian mendasarkan pendapatnya pada dokumen-dokumen Konsili Vatikan II yang membuka keran luas bagi peningkatan peran awam dalam kehidupan menggereja.
Namun pendapat ini ternyata bertentangan langsung dengan instruksi Redemptionis Sacramentum (RS) yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2004, dimana pada artikel 151 disebutkan "Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan Liturgi. Permohonan akan bantuan yang demikian bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat, melainkan, karena kodratnya, bersifat pelengkap dan darurat."
Tugas utama seorang prodiakon adalah membantu imam membagikan komuni dalam perayaan Ekaristi di gereja. Uskup dapat menambah tugas bagi mereka tergantung situasi umat setempat, seperti untuk membawa komuni bagi orang sakit dan memimpin ibadat sabda.
Senin, 18 Juli 2011
Jumat, 15 Juli 2011
LEKTOR : Persiapan, Pelaksanaan dan Evaluasi Tugas Lektor
TUGAS LEKTOR
Sebelum membahas persiapan dan pelaksanaan tugas, baik terlebih dahulu ditegaskan kembali tugas dan peranan Lektor dalam tata liturgi Gereja Katolik.
Sebelum membahas persiapan dan pelaksanaan tugas, baik terlebih dahulu ditegaskan kembali tugas dan peranan Lektor dalam tata liturgi Gereja Katolik.
- Lektor dilantik untuk mewartakan bagi jemaat bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil (PUMR 99), yakni Bacaan I atau II, atau bahkan - bila tidak ada petugas lain, juga kedua bacaan yang ada.
- Lektor, bila tak ada pemazmur, boleh membawakan mazmur tanggapan (PUMR 99) setelah saat hening yang menyusul Bacaan I (PUMR 196).
- Lektor, jika tidak ada diakon, boleh juga membawakan doa-doa umat setelah lebih dahulu dibuka imam (PUMR 197).
- Lektor, jika tak ada lagu pembuka dan nyanyian komuni, boleh membawakan antifon pembuka dan antifon komuni yang terdapat dalam Misale kecuali kalau antifon-antifon itu didaraskan oleh jemaat atau imam (PUMR 48,87, 198).
- Tugas lektor istimewa, sebab meskipun pada saat bertugas ada pelayan tertahbis, tugas itu harus dijalankannya sendiri (PUMR 99) sesuai kebiasaan tradisi (PUMR 59). Meski dalam kasus lektor tidak hadir, imam atau bahkan umat comotan, dapat mengambil alih tugas pembacaan sebelum Injil (ibid.), tugas lektor tetap memiliki kehormatan tersendiri untuk selalu dipenuhi sesuai martabatnya.
Label:
Liturgi
Kamis, 14 Juli 2011
LEKTOR : Visi Batin dan Semangat Penghayatannya
Hal paling mendasar yang harus disadari oleh seorang lektor adalah bahwa ia seorang beriman. Lektor adalah pengaku iman, seorang confessor. Untuk dapat menjalankan tugas perutusannya, seorang lektor dituntut lebih dulu untuk mengakui Tuhan dan kebenaran Sabda-Nya dalam Kitab Suci. Ia juga harus percaya sepenuhnya bahwa Gereja dan liturginya memang dikehendaki Tuhan sebagai sarana keselamatan.
Dalam konteks peribadatan suci Gereja, khususnya dalam Liturgi Sabda, lektor harus percaya bahwa “bila Alkitab dibacakan dalam Gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya” (PUMR 29; bdk. SC 33). Kepercayaan yang sama hendaklah diberikan pada saat Injil dibacakan diakon atau imam sebagai saat Kristus sendiri hadir dan menyampaikan sabda-Nya (PUMR 55). Lektor hendaklah percaya bahwa dalam Liturgi Sabda Allah sungguh hadir melalui Sabda yang dibacakannya. Bahkan, ia diundang untuk percaya akan kehadiran Allah sepanjang Perayaan Misa Kudus. Dari kesadaran ini diharapkan lektor mampu melaksanakan tugas pembacaan Sabda Allah sebagai sarana mengekspresikan imannya. Karena itu lektor diharapkan mampu menjadi pribadi yang selalu haus akan Sabda Tuhan dan siap menghidupi kebenaran Kitab Suci. Ia diundang untuk terbuka dan mau dijiwai oleh Sabda Tuhan agar dirinya selalu gembira dan berani menampilkan kesaksian hidup. Dari lektor diharapkan muncul sikap-sikap pokok seperti disiplin, hormat dan taat pada Sabda Tuhan.
Dalam konteks peribadatan suci Gereja, khususnya dalam Liturgi Sabda, lektor harus percaya bahwa “bila Alkitab dibacakan dalam Gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya” (PUMR 29; bdk. SC 33). Kepercayaan yang sama hendaklah diberikan pada saat Injil dibacakan diakon atau imam sebagai saat Kristus sendiri hadir dan menyampaikan sabda-Nya (PUMR 55). Lektor hendaklah percaya bahwa dalam Liturgi Sabda Allah sungguh hadir melalui Sabda yang dibacakannya. Bahkan, ia diundang untuk percaya akan kehadiran Allah sepanjang Perayaan Misa Kudus. Dari kesadaran ini diharapkan lektor mampu melaksanakan tugas pembacaan Sabda Allah sebagai sarana mengekspresikan imannya. Karena itu lektor diharapkan mampu menjadi pribadi yang selalu haus akan Sabda Tuhan dan siap menghidupi kebenaran Kitab Suci. Ia diundang untuk terbuka dan mau dijiwai oleh Sabda Tuhan agar dirinya selalu gembira dan berani menampilkan kesaksian hidup. Dari lektor diharapkan muncul sikap-sikap pokok seperti disiplin, hormat dan taat pada Sabda Tuhan.
Label:
Liturgi
ANAKKU, PASTORKU
(Surat Hati Papa-Mama buat Anaknya yang seorang Imam)
Anakku tercinta….,
kau tetap menjadi anakku, namun bukan milikku.
Kau tetap darah dagingku, namun bukan kepunyaanku.
Kau tetap buah cinta perkawinan kami yang terindah,
namun bukan untuk kami semata.
Mulai sekarang,
Dalam iman aku memandangmu, "Utusan Tuhan-ku".
Dengan penuh harap, aku pasrahkan hidupku padamu, "Gembala-ku".
Dan sepenuh kasih, aku menyapamu, "Pastor-ku".
Tak ada yang aku minta, selain berkat;
tak ada yang ingin aku dapatkan selain berkat.
Saat aku sakit nanti, aku tahu, kau tak selalu akan hadir,
walau aku ingin kau hadir.
Saat aku dalam kesendirian di uzur usiaku,
aku sadar bahwa kau tiada waktu temani aku,
biar aku amat rindu dan berharap.
Sungguh, pada saatnya tiba, akan terasa begitu indah, damai dan bahagianya,
bila aku menutup mata diiring berkat dan olesan minyak kudus,
dari tangan kudus putera kesayanganku.
Anakku tercinta….,
kau tetap menjadi anakku, namun bukan milikku.
Kau tetap darah dagingku, namun bukan kepunyaanku.
Kau tetap buah cinta perkawinan kami yang terindah,
namun bukan untuk kami semata.
Mulai sekarang,
Dalam iman aku memandangmu, "Utusan Tuhan-ku".
Dengan penuh harap, aku pasrahkan hidupku padamu, "Gembala-ku".
Dan sepenuh kasih, aku menyapamu, "Pastor-ku".
Tak ada yang aku minta, selain berkat;
tak ada yang ingin aku dapatkan selain berkat.
Saat aku sakit nanti, aku tahu, kau tak selalu akan hadir,
walau aku ingin kau hadir.
Saat aku dalam kesendirian di uzur usiaku,
aku sadar bahwa kau tiada waktu temani aku,
biar aku amat rindu dan berharap.
Sungguh, pada saatnya tiba, akan terasa begitu indah, damai dan bahagianya,
bila aku menutup mata diiring berkat dan olesan minyak kudus,
dari tangan kudus putera kesayanganku.
Label:
Doa/Renungan/Kesaksian
Rabu, 13 Juli 2011
LEKTOR : Panggilan dan Perannya
Bidang peran lektor ada dalam area pelayanan liturgi kudus. Tiga hal pokok perlu disadari oleh setiap lektor. Pertama, keberadaan lektor terkait dengan identitasnya sebagai orang beriman - berkat pembaptisannya, dan tempatnya dalam tata komunitas Gereja - berkat peran pelayanannya. Kedua, panggilan lektor ada di bidang liturgi, yakni peribadatan kudus di mana Allah hadir dan menyelenggarakan karya keselamatan-Nya. Ketiga, peran lektor terletak pada partisipasinya dalam pelayanan liturgis.
Pokok pertama bermanfaat untuk mengingatkan kontribusi dan tanggungjawab partisipatif (participatio actuosa) sebagai anggota jemaat. “Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis” (PUMR 16). Sebagai demikian, Perayaan Ekaristi merupakan perayaan umat (SC 41; ME 3d; PUMR 19, 34) di mana jemaat beriman dan para pelayan liturgi berperan menurut tugas dan fungsi partisipatif masing-masing (PUMR 17).
Pokok pertama bermanfaat untuk mengingatkan kontribusi dan tanggungjawab partisipatif (participatio actuosa) sebagai anggota jemaat. “Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis” (PUMR 16). Sebagai demikian, Perayaan Ekaristi merupakan perayaan umat (SC 41; ME 3d; PUMR 19, 34) di mana jemaat beriman dan para pelayan liturgi berperan menurut tugas dan fungsi partisipatif masing-masing (PUMR 17).
Label:
Liturgi
Jumat, 08 Juli 2011
LEKTOR : Sekilas Jejak Historisnya
Keberadaan seorang pembaca Sabda Allah (lector, Latin) dalam peribadatan suci sudah ditemukan dalam tradisi agama Yahudi. Jejaknya dapat dijumpai terutama dalam sumber Perjanjian Lama. Bahkan, dalam sumber Perjanjian Baru, jejak itu masih tampak saat Yesus datang ke Nazaret (Luk 4:16-30), masuk ke rumah ibadat, lalu membaca dan mengajar dari teks Yesaya 61:1-2 : "Roh Tuhan ada pada-Ku / oleh sebab la telah mengurapi Aku / untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin / dan la telah mengutus Aku / untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan / dan penglihatan bagi orang-orang buta / untuk membebaskan orang-orang yang tertindas / untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Dari tradisi peribadatan Yahudi di sinagoga itu, biasanya seorang tampil dari tengah jemaat. Kepadanya diberikan kitab yang diambil dari Kitab Taurat dan Para Nabi. Dan setelah dibuka, dibacalah salah satu teks. Selesai pembacaan, kitab tersebut ditutup dan kemudian diberikan kembali kepada pejabat. Pengajaran menyusul kemudian. Meneruskan tradisi Yahudi, kebiasaan membaca Kitab Suci juga ditemukan dalam era Gereja Perdana (bdk Kis 2:41-47).
Dalam tradisi Gereja, keberadaan lektor ditemukan jejaknya dalam periode abad-abad pertama sejarah kekristenan. Homili St Yustinus martir (wafat sekitar thn 165) menyebut adanya pembaca liturgis, anaginoskon. Paus Cornelius I (251-253), dalam suratnya kepada Fabius dari Antiokhia, menunjukkan bahwa Gereja Roma pada saat itu, selain mempunyai 42 akolit dan 52 eksorsis, memiliki juga sejumlah lektor. Jejak adanya lektor juga ditemukan di Gereja Cirta, Afrika, pada abad keempat saat dilaporkan bahwa Gereja setempat memiliki 4 imam, 3 diakon, 4 subdiakon dan 7 lektor.
Dari tradisi peribadatan Yahudi di sinagoga itu, biasanya seorang tampil dari tengah jemaat. Kepadanya diberikan kitab yang diambil dari Kitab Taurat dan Para Nabi. Dan setelah dibuka, dibacalah salah satu teks. Selesai pembacaan, kitab tersebut ditutup dan kemudian diberikan kembali kepada pejabat. Pengajaran menyusul kemudian. Meneruskan tradisi Yahudi, kebiasaan membaca Kitab Suci juga ditemukan dalam era Gereja Perdana (bdk Kis 2:41-47).
Dalam tradisi Gereja, keberadaan lektor ditemukan jejaknya dalam periode abad-abad pertama sejarah kekristenan. Homili St Yustinus martir (wafat sekitar thn 165) menyebut adanya pembaca liturgis, anaginoskon. Paus Cornelius I (251-253), dalam suratnya kepada Fabius dari Antiokhia, menunjukkan bahwa Gereja Roma pada saat itu, selain mempunyai 42 akolit dan 52 eksorsis, memiliki juga sejumlah lektor. Jejak adanya lektor juga ditemukan di Gereja Cirta, Afrika, pada abad keempat saat dilaporkan bahwa Gereja setempat memiliki 4 imam, 3 diakon, 4 subdiakon dan 7 lektor.
Label:
Liturgi
Kamis, 07 Juli 2011
Paduan Suara yang Berkenan pada Tuhan
Malaikat Tuhan diutus ke sebuah gereja yang sangat terkenal dengan paduan suaranya yang sangat menawan, megah dan hampir sempurna. Kepopulerannya sangat membahana ke seluruh wilayah itu sehingga umat berbondong-bondong mendatangi gereja tersebut. Tentu saja gereja yang sangat megah, berhiaskan ukiran-ukiran berseni tinggi, tata lampu suara dan kursi yang bagus.
Pada suatu perayaan di gereja tersebut, sang malaikat datang menghadirinya. Koor mulai bernyanyi dengan megah, tidak ada nada yang salah sedikitpun, suara yang dihasilkan bulat dan menyatu, setiap tanda dinamika dalam partitur tidak terlewatkan. Komposisinya pun sangat rumit namun menghasilkan harmoni yang bagus sekali.
Namun, apa yang terjadi....hingga hampir selesai peryaan tersebut wajah sang malaikat tampak tidak terkesan, bahkan seperti sedih. Maka keluarlah malaikat itu dari gereja tersebut. "inikah kelompok pemuji Tuhan yang sangat terkenal di dunia ini...?" pikirnya dalam hati...
Label:
Liturgi
Langganan:
Postingan (Atom)
