Selasa, 07 Februari 2012

KISAH CANGKIR

Pada suatu hari ada seorang nenek yang kagum pada sebuah cangkir teh yang ia miliki, ketika ia sedang memuji-muji keindahannya tiba-tiba Si Cangkir berkata kepada nenek itu.

“Terimakasih atas pujiannya, tetapi saya tidak selalu indah.”

Nenek itu terkejut lalu kembali bertanya tentang apa maksud dari perkataan Si Cangkir tadi.

“Apa maksud dari perkataanmu tadi bahwa dirimu tidak selalu indah ?.”

“Baiklah”, kata cangkir itu, “pada waktu itu saya hanyalah tanah liat yang jelek dan lembab. Hingga pada suatu hari dengan tangan yang kotor dan basah menciduk saya lalu melemparkannya ke dalam jentera. Kemudian ia mulai memutar roda semakin lama semakin cepat hingga saya menjadi pusing. Lalu saya berteriak.

“Berhenti ! berhenti !.

Tetapi ia berkata , “Belum”.

“Akhirnya ia berhenti ,tetapi ia melakukan hal yang lebih menyakitkan dari pada sebelumnya. Ia menaruh saya pada tungku pembakaran, tungku itu semakin lama semakin panas. Sampai saya tidak bisa menahan lagi dan lagi-lagi saya berteriak, “Berhenti !, Berhenti !”

Dan lagi-lagi ia berkata, “Belum”.

“Akhirnya , ketika saya berpikir bahwa saya akan terbakar ia mengeluarkan saya dari tungku itu.

Kemudian beberapa wanita berambut panjang, mulai mengecat saya. Uap cat itu begitu buruk bagi saya sehingga membuat pernapasan saya tidak enak. Dan saya memohon

“Berhenti ! Berhenti !.”



Wanita berambut panjang itu berkata. “Belum saatnya”.

Tapi akhirnya ia berhenti, tapi kembali saya dimasukan ke dalam perapian yang mengerikan itu. Kali ini lebih panas daripada sebelumnya. Sayapun berteriak kembali.

“Berhenti !,Berhenti !.

Wanita itu memandang dengan tajam dan berkata, “belum ! belum !.”

“Sekarang setelah menjalani bagian terakhir yang panjang ini, ia mengeluarkan saya dari perapian dan menaruh saya di tempat yang dingin. Ketika saya dingin seluruhnya,seorang anak muda menaruh saya dalam kotak dengan jerami yang membungkus saya dan cangkir-cangkir lainnya juga, kemudian seorang wanita menaruh saya di lemari, di sebelah cermin.

“Ketika saya memandang ke dalam cermin, saya kagum pada diri saya. Saya tidak percaya pada apa yang saya lihat. Saya tidak lagi jelek,basah dan kotor. Sekarang rupa saya berkilau-kilauan. Saya kelihatan indah,anggun, dan bersih.”

“Sesudah itulah saya menyadari bahwa semua penderitaan itu berharga. Tanpa itu semua mungkin saya masih berpenampilan jelek,basah dan kotor. Dan sesudah itulah semua kesakitan itu membawa makna dan perubahan yang penting bagi saya. Karena penderitaan itu berlalu, tetapi keindahan yang di hasilkannya tetap “.

Semoga bermanfaat

4 komentar:

  1. jika kita mempunyai iman sebesar biji sawi, maka kita percaya bahwa penderitaan itu adalah keselamatan. sangat indah cerita tersebut.

    BalasHapus
  2. Memaknai hidup. Terima kasih pencerahannya.

    BalasHapus
  3. Memaknai hidup. Terima kasih pencerahannya.

    BalasHapus
  4. Memaknai hidup. Terima kasih pencerahannya.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...