Selasa, 20 Maret 2012

AKU PERCAYA

Pengakuan Iman Kristen diawali dengan rumusan yang mengakui adanya Allah. Dalam rumusan pengakuan iman dengan sengaja dipakai kata, Aku, bukan, Kami. Dipandang dari sudut tata bahasa Indonesia, maka kata, Aku berfungsi sebagai kata ganti pertama tunggal. Sedangkan kata, Kami berfungsi sebagai kata ganti pertama jamak. Maka jika dalam rumusan pengakuan iman dipakai kata Aku, maka yang mengakui iman kepada Allah bukan kelompok atau sekelompok orang, tetapi justru diri sendiri sebagai pribadi yang berdiri sendiri di hadapan Allah.

Dengan mengucapkan “Aku percaya …”, berarti sebagai orang yang beriman atau percaya kepada Allah harus berani menyatakan pengakuannya di hadapan orang lain. Beriman kepada Allah berarti menundukkan seluruh pikiran dan kehendakNya kepada Allah. Abraham bersedia meninggalkan Ur-Kasdim menuju tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan karena percaya kepada kehendak Allah sendiri (Kejadian 12). Dalam peristiwa ini, Abaraham tidak lagi mengandalkan kehendak dan pikirannya sebagai manusia, tetapi sepenuhnya mengandalkan kehendak dan rencana Allah sendiri. Karena imannya kepada Allah yang begitu besar maka Abraham tidak hanya menjadi orang yang beriman atau orang yang percaya, tetapi juga akhirnya menjadi Bapa bagi orang percaya. Demikian juga dengan kisah Rut, wanita dari bangsa Moab. Rut berani mengambil keputusan yang berat, yaitu meninggalkan sanak keluarganya di Moab dan ikut Naomi ke Israel. Maka percaya atau beriman juga merupakan suatu ikatan pribadi manusia sebagai pribadi dengan Allah dan sekaligus mempercayai segala kebenaran yang telah dinyatakan oleh Allah sendiri.

Manusia mencari Allah

Manusia setiap hari melihat kenyataan yang sulit dimengerti, yaitu adanya siklus kehidupan yang berkisar sekitar kelahiran dan kematian. Dua peristiwa ini dirasakan sangat bertolak belakang dan manusia hidup di antaranya. Kelahiran seorang anak manusia umunya disambut dengan sukacita, sebaliknya peristiwa kematian seorang manusia dirasakan menyedihkan, menyakitkan hati dan juga dianggap sebagai peristiwa yang tidak masuk akal serta mengerikan.



Oleh sebab itu dirasakan dan dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Manusia ingin menikmati hidupnya dengan kebahagiaan. Maka dalam diri manusia selalu timbul kerinduan untuk mempertahankan hidupnya dengan segala cara. Salah satu cara yang dilakukan adalah menciptakan hubungan yang baik dan selaras dengan sesama dan lingkungan. Bahkan juga dengan dunia yang berada di luar jangkauan akal budinya, atau sering disebut sebagai dunia akodrati.

Bersamaan dengan itu pula manusia mulai bertanya-tanya: “Apa arti dan tujuan hidup ini ? Mungkinkah kebahagiaan bisa terwujud?" Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan. Demikian juga jawabannya bisa beragam. Hanya saja dari sekian banyak jawaban ternyata tidak ada yang bisa memuaskan hati dan kerinduan manusia. Akhirnya manusia cenderung mengakui adanya Yang Mahakuasa, yang disebut sebagai Tuhan. Kepada-Nya manusia berusaha mempercayakan seluruh perjalanan hidupnya.

Meskipun demikian tidak berarti manusia sudah puas dan berhenti bertanya. Bahkan sekarang muncul pertanyaan baru, yaitu, “Siapakah Dia itu? Apa pula maksud dan rencanaNya sehingga menciptakan alam semesta dan manusia? Kalau memang Dia yang menciptakan segala-galanya, mengapa dalam kenyataan harus ada siklus kehidupan dalam hidup manusia? Bahkan juga ada yang mulai berpikir, apakah percaya kepada Allah itu bisa dipertanggungjawabkan?"

Munculnya pertanyaan seperti itu dari manusia tidak lain karena manusia itu sendiri yang tidak bisa dilepaskan dari kodratnya. Manusia, menurut kodratnya memang merupakan makhluk yang selalu merenungkan kebenaran adanya Illahi. Di samping itu kemajuan ilmu pengetahuan telah mendorong manusia berpikir secara rasional. Segala sesuatu yang tidak masuk akal akan diragukan kebenarannya.
Sebagai makhluk manusia yang mempunyai akal. Ini menunjukkan bahwa manusia manusia bukan sekedar makhluk yang kedudukannya sama dengan makhluk lain. Dengan akalnya manusia bisa berpikir dan merenungkan tujuan hidupnya (Mazmur 8). Sebagai makhluk yang berakal, manusia mempunyai cita-cita, rencana dan juga memikirkan tujuannya. Hanya saja tidak semua yang dipikirkan, dicita-citakan dapat dijawab dan terpenuhi. Tidak aneh kalau pada akhirnya ada yang beranggapan bahwa hidup ini sebagai misteri.

Allah yang telah menyatakan diri

Allah yang dikenal dalam iman Kristen sebagaimana yang disaksikan dalam Alkitab adalah Allah yang telah menyatakan diri kepada manusia (bangsa Israel) sebagai Allah yang esa (Kel. 6:4-5) “Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing,tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku”. Sebagai Allah yang esa berkenan memanggil manusia supaya senantiasa berpaling kepadaNya, Yesaya 45:22-24, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN. Semua orang yang telah bangkit amarahnya terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu”.

Sebagai yang esa, Allah juga Allah yang hidup. Dalam Keluaran 3:6, Allah berkenan menyapa Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Iskhak dan Allah Yakub”. Di sini Allah berkenan menyatakan kepada Musa bahwa sebagai Allah yang hidup, Ia selalu hadir menyertai manusia dan melaksanakan kehendakNya tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Lebih jauh lagi Allah berkenan menyatakan namaNya yang kudus. Kepada Musa Allah telah berfirman, “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:13-15). Menurut kepercayaan bangsa-bangsa Timur Tengah kuno, nama mengungkapkan hakekat seseorang, identitas pribadi dan juga menyangkut hidup dan matinya seseorang, identitas pribadi dan juga menyangkut hidup dan matinya seseorang. Oleh sebab itu tidak kepada setiap orang seseorang menyatakan namanya, kecuali pada orang terdekat atau orang yang dipercaya. Khawatir kalau orang yang mengetahui namanya itu akan mengetahui juga kelemahannya, sehingga ia akan mudah dikalahkan. Dengan memperkenalkan namaNya, berarti Allah berkenan menyatakan dirinNya, kehadiranNya dan kesetianNya kepada manusia.

Mengingat kehadiran Allah yang penuh dengan rahasia dan kemuliaanNya, manusia menjadi sadar akan kehinaannya. Ketika Musa berdiri di depan Allah, harus menanggalkan kasutnya dan menutupi mukanya, demikian juga dengan nabi Yesaya yang harus mengakui kehinaannya dengan berseru, “Celakalah aku, aku binasa. Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam”. (Yesaya 6:5).

KehadiranNya juga menunjukkan bahwa Allah tidak hanya bersemayam di tempat yang jauh. Tetapi Ia juga hadir di antara umatNya untuk menyatakan firman dan kebenaranNya. Dengan perantaraan firman dan kehendakNya, Allah berkenan mengatur dan mengarahkan hidup manusia. Karena Allah selalu menepati firmanNya. Dengan beriman kepada Allah, manusia didorong supaya senantiasa berpaling kepadaNya. Sebab Dia adalah awal mula dan tujuan akhir manusia.

Selanjutnya Allah senantiasa menawarkan dan menyatakan diriNya kepada manusia. Tawaran ini mempunyai arti bahwa Allah pada dasarnya menghendaki agar manusia mau mempersekutukan diri dengan Allah. Tidak berarti bahwa ada persamaan antara Allah dengan manusia. Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia. Tetapi sekaligus Allah bersekutu dengan manusia dan manusia bersekutu dengan Allah. Dengan ungkapan lain, Allah yang transenden atau yang melampaui segala sesuatu menjadi Allah yang imanen atau Allah yang hadir.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...