Minggu, 18 Juli 2010

TEMA XXVI: HIDUP KEKAL

Pertemuan 26 Katekese Lansia:
TEMA : HIDUP KEKAL

Referensi biblis :
Luk 16:19-31

Pokok-pokok iman dan refleksi:

- Hidup manusia di dunia sifatnya fana/sementara, artinya cepat atau lambat, hidup kita berakhir dengan kematian. Kemanakah kita setelah meninggal? Apa yang terjadi setelah kematian? Bagaimana kita mempersiapkan kematian secara katolik?

- Dalam syahadat kalimat terakhir kita ucapkan:
     Aku Percaya .........
     Kebangkitan Badan dan Kehidupan Kekal.
Dalam syahadat kita ucapkan kepercayaan kita akan kehidupan kekal, kehidupan abadi. Bagaimana kehidupan abadi itu digambarkan dan dijelaskan oleh iman kita ?

- Setiap orang Kristen yang telah dibaptis diikutsertakan secara penuh dalam kehidupan Yesus Kristus, Putera Allah, Penebus Ilahi. “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” (Rom 6:4-5). Jadi setiap orang yang telah dibaptis diberi hidup baru yang sama dengan hidup Yesus yang telah bangkit. Mereka seperti ditanami benih kehidupan abadi. Dan hidup abadi itu diterima penuh ketika mereka diubah oleh kematian untuk menerima hidup kekal. Maka dengan persatuan dengan kebangkitan Kristus kematian bukan lagi saat akhir yang menakutkan, malah dalam iman, kematian merupakan saat yang diharapkan, karena kematian itu menjadi awal (pintu) yang membawa manusia memasuki hidup abadi, bertemu dengan Tuhan Yesus, yang mencintai dan telah menyerahkan nyawanya untuk kita.



- Saat seseorang meninggal dunia, maka menurut iman Gereja Katolik yang bersangkutan akan menghadapi Pengadilan Khusus, yaitu saat kita masing-masing diadili secara pribadi oleh Yesus Kristus. Selain itu ada juga Pengadilan umum/ terakhir, yaitu pada akhir zaman, saat kita diadili oleh Yesus Kristus di hadapan semua manusia

1. Pengadilan Khusus

- Kisah orang kaya dan Lazarus menggambarkan penghakiman yang diadakan segera setelah kematian. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa ketika seseorang meninggal dunia, jiwanya terpisah dari raganya. JIWA adalah “siapa” kita sebenarnya: sementara tubuh kita mati, jiwa kita - diri kita yang sebenarnya - tetap hidup dan kembali kepada Tuhan untuk menghadapi pengadilan Tuhan.

- Saat kita meninggal, kita harus mempertanggung-jawabkan hidup kita, atas segala hal BAIK yang kita lakukan dan segala DOSA yang kita perbuat, hukuman dan ganjaran. Tuhan kemudian akan menjadi hakim apakah jiwa kita layak ke surga, neraka atau api penyucian.
  • Jika kita meninggal dan didapati oleh Tuhan dalam keadaan kudus (bebas dari dosa dan luka akibat dosa), maka kita disambut di SURGA.
  • Jika kita meninggal dunia dengan menanggung dosa-dosa ringan atau luka akibat dosa, Tuhan dalam kasih dan kerahiman-Nya akan terlebih dahulu memurnikan serta memulihkan jiwa dalam API PENYUCIAN; setelah pemurnian dan pemulihan, barulah jiwa kita disambut dalam surga.
  • Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat akan keadaan ini membawa jiwa kita ke NERAKA.
SURGA :
- Surga adalah Tempat Kediaman Allah yang Hidup.
- Surga adalah kebahagiaan manusia dalam kesatuan sempurna dengan Allah. Masuk surga berarti mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Tuhan.
- Oleh kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus Kristus telah ‘membuka' surga bagi kita. Kehidupan orang bahagia berarti memiliki secara penuh buah penebusan oleh Kristus. Ia mengundang mereka, yang selalu percaya kepada-Nya dan tetap setia kepada kehendak-Nya, mengambil bagian dalam kemuliaan surgawi-Nya. Surga adalah persekutuan bahagia dari semua mereka yang bergabung sepenuhnya dengan Dia”

NERAKA :
- Neraka adalah tempat siksa abadi bagi mereka yang menolak Allah di dunia dan melakukan dosa-dosa berat tanpa bertobat.
- Hukuman neraka yang terutama adalah terpisahnya jiwa dari Tuhan untuk selama-lamanya. Di neraka jiwa menderita perasaan kehilangan - kehilangan kasih Allah, kehilangan hidup bersama Tuhan, dan kehilangan kebahagiaan: kasih, kehidupan dan kebahagiaan sejati berasal dari Tuhan, dan setiap manusia merindukannya

API PENYUCIAN :
- Api penyucian, disebut juga Purgatorium. Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

- Tujuan api penyucian adalah untuk memurnikan kita dari segala noda dosa, silih atas segala hutang dosa sepanjang hidup kita, serta melepaskan kita dari segala keterikatan duniawi agar kita dapat sepenuhnya mengasihi Tuhan dan sesama. Setelah noda dosa sepenuhnya dibersihkan, maka jiwa akan segera masuk dalam kemuliaan dan persekutuan penuh dengan Tuhan di surga.

- Api penyucian ada semata-mata karena belas kasih Allah. Persyaratan untuk masuk ke dalam surga begitu sulit karena “tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis” (Why 21:27). Agar dapat langsung menuju surga, kita harus sepenuhnya bebas dari noda dosa. Artinya bahwa kita harus dalam keadaan rahmat, bebas dari dosa-dosa ringan, telah sepenuhnya melunasi penitensi dan siksa dosa temporal atas segala dosa kita, serta bebas dari keterikatan duniawi yang menjauhkan kita dari Tuhan (misalnya: harta benda, dendam, dsb). Begitulah, kita dapat melihat betapa sulitnya menghindari api penyucian, tetapi dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita dapat melakukannya!

- Proses pemurnian di api penyucian sangat menyakitkan. Jiwa-jiwa di sana melihat bagaimana dosa telah memisahkan mereka dari Tuhan dan mereka menyesali secara mendalam apa yang telah mereka lakukan. Bahkan dosa ringan sekalipun menyebabkan mereka menderita, sebab seringan apapun dosa, dosa tersebut merupakan penghinaan terhadap Allah karena ketidaktaan pada kehendak-Nya. Walau jiwa-jiwa di sana menderita sengsara yang dahsyat, tetapi mereka memiliki sukacita yang besar oleh karena pengharapan bahwa suatu hari nanti mereka akan berada di surga

- Jiwa-jiwa menderita di api penyucian tidak lagi dapat berdoa bagi diri mereka sendiri, mereka sama sekali tergantung pada kita yang masih hidup. Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka, doa rosario, doa Kerahiman Allah (koronka). Jiwa-jiwa yang dihantar masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui doa dan kurban kita bagi mereka sementara kita di dunia, kelak akan menjadi sahabat-sahabat kita selama-lamanya di surga!

2. Pengadilan Terakhir

- Berawal dari pembaptisan kita, kita ambil bagian dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, dan berjuang untuk mengamalkan hidup bersama-Nya seperti yang Ia kehendaki bagaimana hidup itu diamalkan.
 Setiap kali kita menyambut Komuni Kudus, kita ingat akan kata-kata Tuhan kita, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Santo Paulus dalam surat pertamanya kepada umat di Korintus juga mengingatkan kita, “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15:12-14). Sebab itu, kita merindukan kehidupan tubuh dan jiwa bersama Tuhan kita di surga.

- Pada akhir jaman, setelah kebangkitan badan, kita (jiwa dan badan) akan diadili dalam Pengadilan Umum/ Terakhir. Pada saat inilah segala perbuatan baik dan jahat dipermaklumkan di hadapan semua mahluk, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak diketahui dan diumumkan.”(Luk 8: 17). Pada saat itu, seluruh bangsa akan dikumpulkan di hadapan tahta Kristus, dan Dia akan mengadili semua orang: yang baik akan dipisahkan dengan yang jahat seperti memisahkan domba dan kambing (lih. Mat 25: 32-33). Hasil Pengadilan itu akan membawa penghargaan ataupun penghukuman, bagi jiwa dan badan.

- Jiwa kita yang bersifat kekal, pada saat penghakiman terakhir akan bersatu kembali dengan badan kita. “Oleh kematian, jiwa dipisahkan dari badan; tetapi dalam kebangkitan, Allah akan memberi kehidupan abadi kepada badan yang telah diubah, dengan mempersatukannya kembali dengan jiwa kita. Seperti Kristus telah bangkit dan hidup untuk selamanya, demikian juga kita semua akan bangkit pada hari kiamat.” Jadi apakah yang dibangkitkan adalah tubuh rohani atau fana, maka lebih tepatnya adalah “badan yang telah diubah” atau “glorious body“, seperti yang dialami oleh Kristus pada saat kebangkitan-Nya.

- Tubuh dan jiwa manusia bersatu di Surga, apabila ia memang layak menerima ‘penghargaan’ tersebut; inilah yang disebut sebagai kebahagiaan sempurna dan kekal di dalam Tuhan. Atau sebaliknya, tubuh dan jiwa manusia masuk ke neraka, jika keadilan Tuhan menentukan demikian, sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri; inilah yang disebut sebagai siksa kekal.

- Setelah akhir jaman, yang ada tinggal Surga dan Neraka, tidak ada lagi Api Penyucian, sebab semua yang ada di dalam Api Penyucian akan beralih ke Surga. Dan karena seluruh semesta alam akan dihancurkan dengan api pada akhir jaman, maka orang-orang yang baik/ benar dapat masuk surga jiwa dan badannya setelah melalui api itu, seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego (lih. Dan 3:1-30), tanpa terbakar. Sedang mereka yang jahat akan masuk neraka, jiwa dan badannya.

- Persatuan jiwa dan badan di surga inilah yang disebut sebagai kesempurnaan kebahagiaan kekal dan sebaliknya, yang di neraka sebagai siksa kekal yang tak terlukiskan.

- Kebangkitan tubuh adalah misteri iman, sesuatu yang kita tak mampu memahami sepenuhnya. Namun demikian, keyakinan ini diperteguh melalui diangkatnya Bunda Maria ke surga. Ia, yang sepenuhnya mengamalkan iman yang hidup di dunia ini dan dalam dimensi waktu ini, diangkat tubuh dan jiwanya ke surga di akhir hidupnya. Sebab itu, kita dapat melihat teladannya dan mempersatukan tubuh dan jiwa kita sendiri dengan Tuhan dalam hidup ini, sembari merindukan kehidupan yang mulia, yang diubah dan yang sempurna dalam kerajaan surgawi di akhir jaman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...