Sabtu, 19 Juni 2010

TEMA XXII : SAKRAMEN PENGUATAN/KRISMA

Pertemuan 22 Katekese Lansia :
TEMA : SAKRAMEN PENGUATAN / KRISMA

Referensi biblis :
Yoh 14:15-17, 25-27

Makna SAKRAMEN KRISMA :
 Setelah kita telah dilahirkan kembali oleh air dan Roh melalui sakramen Baptis, maka kita pun harus juga bertumbuh dewasa di dalam Kristus. Dalam gereja katolik, Kristus menganugrahkan pada kita Sakramen Penguatan, yang memberikan kita sumber kekuatan, yaitu karunia yang berasal dari Roh Kudus-Nya sendiri.

 Sakramen Penguatan disebut juga sebagai sakramen Krisma. Krisma = pengurapan. Pengurapan ini menjelaskan nama Kristen yang berarti ‘yang terurapi’ yang dapat kita lihat kesempurnaannya pada diri Yesus Kristus, yang diurapi Allah dengan Roh Kudus-Nya (Kis 10:38). Jadi Krisma bagi kita  pengurapan yang menjadikan kita seperti Kristus, dengan menerima pengurapan Roh Kudus yang sama seperti yang diterima oleh Kristus

 Sakramen Penguatan menyebabkan curahan Roh Kudus dalam kelimpahan, seperti yang pernah dijanjikan oleh Kristus kepada para muridNya (Yoh 14:15-21) dan dialami para Rasul pada hari Pentekosta. Curahan Roh Kudus dapat menjadikan kita seperti para rasul, yaitu memiliki kasih yang berkobar kepada Kristus dan keinginan memberikan diri untuk ikut serta dalam karya Keselamatan-Nya



 Seperti halnya Pembaptisan, sakramen Penguatan mengukir suatu tanda rohani yang tak terhapuskan. Ini adalah tanda bahwa Kristus telah “memeteraikan” kita sebagai saksi Kristus. Oleh karena itu, Sakramen Krisma hanya dapat diterima 1x oleh orang katolik.

 Rahmat Sakramen Penguatan/Krisma  menghasilkan pertumbuhan dan pendalaman rahmat Pembaptisan :
 ia menjadikan kita dengan lebih sungguh anak-anak Allah
 ia menyatukan kita lebih teguh dengan Kristus
 ia menambah di dalam kita karunia Roh Kudus
 ia mengikat kita lebih sempurna kepada Gereja
 Ia menganugerahkan kepada kita kekuatan khusus Roh Kudus, supaya sebagai saksi-saksi Kristus yang andal menyebarluaskan dan membela iman dengan perkataan dan perbuatan, mengakui nama Kristus dengan lebih berani dan supaya kita tidak pernah malu dan menghindar dari salib

 Sakramen Penguatan seharusnya membawa dampak besar dalam kehidupan rohani yang menerimanya, karena dengan Sakramen ini kita dapat bertumbuh dewasa di dalam iman. Berikut beberapa tanda kedewasaan iman dalam Kristus, yang merupakan karunia Roh Kudus :

 Memusatkan perhatian kepada Kristus, dan bukan kepada diri sendiri. Misalnya dalam doa-doa kita tidak didominasi oleh doa permohonan untuk kebutuhan kita sendiri (rejeki, sehat dll), Namun jika kita terus bertumbuh, maka doa kita berkembang menjadi ucapan SYUKUR dan pujian penyembahan kepada Tuhan. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memohon berkat pada Tuhan, tetapi seharusnya kita memusatkan perhatian kepada Tuhan terlebih dahulu, sebab yang lain akan diberikan kepada kita kemudian., “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

 Memberikan diri kita untuk pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia, kita mau melayani daripada dilayani. Misal dalam kegiatan di Gereja dan masyarakat, kita tidak menuntut orang lain untuk memperhatikan, melayani, dan menghormati kita; melainkan kita terdorong untuk membantu dan melayani orang lain. Melayani Tuhan  mau menjalankan tugas mewartakan Injil (lih. Mat 28:19-20). BUkan hanya dengan perkataan, tetapi lebih penting lagi dengan perbuatan.

 Tidak mudah bertengkar, Rasul Paulus membacakan pesannya kepada jemaat di Filipi, yang berisi nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Fil 2:1-11), untuk menghindari segala bentuk perselisihan.

 Dengan hati lapang memikul salib yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita, dengan harapan akan kebangkitan bersama Kristus. Hal ini bertentangan dengan keinginan dunia. Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Artinya, dengan rahmat Tuhan, kita harus berjuang untuk meninggalkan dosa dan segala keakuan kita, serta mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk dapat mencapai kebahagiaan bersama-Nya (lih. Rom 6:5-11; 1 Pet 4:13). Bersama Kristus dan semua anggota Gereja-Nya, kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah (lih. 1 Kor 3:9) dengan mempersembahkan segala penderitaan kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus, agar mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang kita kasihi, dan untuk seluruh dunia.

 Mengikuti SELURUH ajaran dan kehendak Tuhan. Kita dituntut tidak hanya menerima ajaran Tuhan yang mudah terima, tetapi ajaran yang sukar dan membutuhkan pengorbanan. Misalnya : Tuhan mengajarkan kita bukan hanya untuk mendoakan orang yang baik kepada kita tapi justru untuk mengampuni , mengasihi dan mendoakan orang yang menyakiti hati kita .
Memang, tanda kedewasaan iman ini merupakan perjuangan hidup bagi kita. Jangan berkecil hati jika belum secara sempurna mempraktekkannya. Yang terpenting adalah kita terus berjuang supaya semakin hari kita semakin dapat menjadikan kelima tanda ini bagian dari hidup kita.


TATA CARA PENERIMAAN SAKRAMEN KRISMA :

 Pada masa lalu Sakramen Krisma diterimakan bersama-sama dengan sakramen-sakramen inisiasi yang lain: Baptis, Krisma, Ekaristi. Tetapi karena alasan pastoral, mulai awal abad XX, kemudian Sakramen Krisma dipisahkan penerimaannya dari Baptis. Tetapi akhir-akhir ini arah Pastoral dan katekese Gereja ingin mengembalikan lagi penerimaan Sakramen-sakramen inisiasi disatukan dalam sebuah upacara, kecuali untuk baptisan bayi/anak-anak. Hal ini juga diikuti oleh Keuskupan Agung Jakarta dan tentunya di Paroki Mangga Besar.



 Pelayan sakramen penguatan yang sebenarnya adalah Uskup, untuk menandaskan bahwa sakramen ini memperkuat hubungan dengan Gereja. Namun jika kebutuhan meningkat, maka Uskup dapat memberikan kuasa kepada para imam untuk tugas tersebut.

 Penerimaan Sakramen krisma menggunakan dua lambang berikut :
 Pengurapan dengan minyak krisma  Minyak merupakan lambang kegembiraan lambang kehormatan, juga digunakan untuk pengusiran roh jahat, pengurapan / pengudusan.
 Penumpangan tangan  Penumpangan tangan merupakan tanda penerimaan, berkat, tanda pengudusan oleh Roh Allah, tanda identifikasi, tanda pembebasan.
St. Paulus menyatakan (2Kor 1:21-22) bahwa pengurapan yang diterima dari Tuhan merupakan ‘meterai hati’, ‘pemberian Roh Kudus’, sebagai ‘jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita’, yakni penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya.

 Pada saat pengurapan, uskup membuat tanda salib di dahi para calon dengan minyak krisma, seraya berkata: “[… nama…] terimalah tanda karunia Roh Kudus, Damai Kristus besertamu.”

3 komentar:

  1. sebelumnya minta maaf klo salah tempat,
    mo nanya nih mengenai nama babptis dan nama krisma,saya punya dua nama santo yang berbeda yaitu santo untuk baptis dan santo untuk krisma saya mau tanya sebenarnya nama krisma itu letak penulisannya sesudah nama baptis/sebelum nama baptis?saya mau menikah sebentar lagi dan skrg sedang persiapan membuat undangan&surat2 dengan format nama baptis kmd nama krisma kmd nama saya betul atau salah format penulisanya?takutnya salah soalnya pada waktu krisma dulu hanya ditulis santo pelindung yg saya pilih tapi tidak dijadikan satu dengan nama baptis dan nama saya sehingga saya tak tau format penulisan yg betul menurut gereja atau terserah boleh dibolak balik format penulisanya?soalnya kok ada yg bilang nama krisma,nama baptis bru nama saya.mohon penjelasanya terima kasih banyak

    BalasHapus
  2. Menurut kebiasaan sih setahu saya, nama Baptis dulu baru nama Krisma. Dan itu pula yang saya cantum kan dalam undangan pernikahan saya dulu. Logikanya kan Baptis dulu baru Krisma. Semoga membantu. Anyway selamat mempersiapkan pernikahan.

    BalasHapus
  3. salam admin...
    saya becker dari Malaysia. saya meminta izin untuk meminta anda memberikan saya maklumat sakramen penguatan/krisma.
    sila emailkan kepada saya benidictbeckerray@yahoo.com

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...